Hari ini aku bertemu dengan bang Tere Liye (penulis
novel-novel best seller, Hapalan solat Delisa, Bidadari-bidadari surga,
Hujan,dll) di acara seminar nasional kepenulisan bersama Tere Liye. Aku sakit
hati dengan kata-kata bang Tere di seminar itu.
Awalnya host acara memanggil bang Tere untuk masuk
ke ruangan dan naik ke panggung yang telah disediakan. Aku shock! Terkejut!
Kenapa? Karena ternyata seorang Tere Liye penulis puluhan novel best seller
yang sudah di filmkan dan juga telah diterjemahkan dalam beberapa bahasa penampilannya
biasa aja. Celana jeans, kaos oblong, sepatu, sama ransel, udah gitu doang.
Malahan lebih keren host nya tau.
tuh bang Tere yang pakai kaos putih, nah hostnya tu yang pakai jas.
Dari awal kedatangan bang Tere aku udah merasa
“malu”, aku merasa “kecil”, aku merasa terlalu “sombong”. Bang Tere yang ketika
berbicara di depan peserta seminar begitu memukau, ilmunya begitu luar biasa
tetapi tampilannya biasa saja. Bahkan ia sempat bercerita bahwa ia pernah naik
kereta dan berdiri di samping seseorang yang sedang membaca novelnya namun
orang tersebut tidak tahu bahwa penulisnya sedang berada di sebelahnya.
Penampilan bang Tere yang biasa-biasa aja jadi luar
biasa dengan segudang ilmu yang beliau punya. Tidak seperti aku yang begitu
ingin menjadi terkenal padahal aku penulis baru yang baru menulis satu buku
yang biasa-biasa saja. Aku malu betapa aku terlalu membanggakan buku pertamaku
yang baru saja di terbitkan oleh penerbit Indi. Aku malu betapa aku ingin
menunjukkan diri di hadapan orang banyak tanpa mempedulikan seberapa banyak
ilmu yang kumiliki.
Aku juga malu plus sakit hati ketika bang Tere
berkata bahwa aku adalah orang yang tidak sabar. Tidak sabar dengan proses.
Proses apa? Proses pembuatan buku tentunya. Kenapa ia bilang aku orang yang
tidak sabar? Karena aku begitu ingin tulisan ku terbit sehingga aku menerbitkan
sendiri di penerbit indi tanpa mencoba mengirim naskah ke penerbit mayor.
Ya meskipun bang Tere nggak ada bilang namaku
langsung tapi aku merasa kata-kata beliau adalah untuk ku. Tapi aku sadar bahwa
apa yang beliau katakan adalah benar adanya. Aku memang manusia yang tidak
sabar.
Sakit hati plus malu yang kudapat hari ini akan
kujadikan obat. Obat Penambah Semangat. Semangat untuk terus menulis, menebar
kebaikan, dan menebar ilmu-ilmu yang baik. Semangat untuk terus belajar menimba
banyak ilmu dan bersabar dalam menikmati proses. Semangat untuk terus rendah
hati dan tidak sombong.
Terimakasih bang Tere, mulai detik ini aku akan
menikmati proses itu.
Mohon maaf ya bang Tere kalau abang baca tulisan
ini. J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar