Minggu, 01 Mei 2016

Aku Sakit Bang Tere



Hari ini aku bertemu dengan bang Tere Liye (penulis novel-novel best seller, Hapalan solat Delisa, Bidadari-bidadari surga, Hujan,dll) di acara seminar nasional kepenulisan bersama Tere Liye. Aku sakit hati dengan kata-kata bang Tere di seminar itu.

Awalnya host acara memanggil bang Tere untuk masuk ke ruangan dan naik ke panggung yang telah disediakan. Aku shock! Terkejut! Kenapa? Karena ternyata seorang Tere Liye penulis puluhan novel best seller yang sudah di filmkan dan juga telah diterjemahkan dalam beberapa bahasa penampilannya biasa aja. Celana jeans, kaos oblong, sepatu, sama ransel, udah gitu doang. Malahan lebih keren host nya tau.

tuh bang Tere yang pakai kaos putih, nah hostnya tu yang pakai jas.
 

Dari awal kedatangan bang Tere aku udah merasa “malu”, aku merasa “kecil”, aku merasa terlalu “sombong”. Bang Tere yang ketika berbicara di depan peserta seminar begitu memukau, ilmunya begitu luar biasa tetapi tampilannya biasa saja. Bahkan ia sempat bercerita bahwa ia pernah naik kereta dan berdiri di samping seseorang yang sedang membaca novelnya namun orang tersebut tidak tahu bahwa penulisnya sedang berada di sebelahnya.

Penampilan bang Tere yang biasa-biasa aja jadi luar biasa dengan segudang ilmu yang beliau punya. Tidak seperti aku yang begitu ingin menjadi terkenal padahal aku penulis baru yang baru menulis satu buku yang biasa-biasa saja. Aku malu betapa aku terlalu membanggakan buku pertamaku yang baru saja di terbitkan oleh penerbit Indi. Aku malu betapa aku ingin menunjukkan diri di hadapan orang banyak tanpa mempedulikan seberapa banyak ilmu yang kumiliki.

Aku juga malu plus sakit hati ketika bang Tere berkata bahwa aku adalah orang yang tidak sabar. Tidak sabar dengan proses. Proses apa? Proses pembuatan buku tentunya. Kenapa ia bilang aku orang yang tidak sabar? Karena aku begitu ingin tulisan ku terbit sehingga aku menerbitkan sendiri di penerbit indi tanpa mencoba mengirim naskah ke penerbit mayor.

Ya meskipun bang Tere nggak ada bilang namaku langsung tapi aku merasa kata-kata beliau adalah untuk ku. Tapi aku sadar bahwa apa yang beliau katakan adalah benar adanya. Aku memang manusia yang tidak sabar.

Sakit hati plus malu yang kudapat hari ini akan kujadikan obat. Obat Penambah Semangat. Semangat untuk terus menulis, menebar kebaikan, dan menebar ilmu-ilmu yang baik. Semangat untuk terus belajar menimba banyak ilmu dan bersabar dalam menikmati proses. Semangat untuk terus rendah hati dan tidak sombong.

Terimakasih bang Tere, mulai detik ini aku akan menikmati proses itu.
Mohon maaf ya bang Tere kalau abang baca tulisan ini. J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar