Selasa, 22 Desember 2015

Kupanggil ia Bunda (cerpen)



 Udara dingin sore hari mulai meraba kulitku dan berhasil Masuk melalui pori-pori tubuh hingga rasanya menusuk-nusuk sampai ke tulang, rintik hujan yang tiba-tiba datang seolah menambah kedinginan yang ada.
Entah mengapa saat itu aku merindukan sosok seorang Ibu. Air mata ku menetes setiap kali berbicara tentang Ibu. Aku jadi teringat hal itu lagi. Saat dimana semua orang membenci ku. Kakek, nenek, paman dan om dari keluarga Ibu ku menyalahkan aku. Mereka bilang akulah penyebab kematian Ibu ku. Mereka bilang karena melahirkanku  Ibu  jadi meninggal.
Kini hanya Ayah satu-satunya keluarga ku yang sangat menyayangi aku dan bisa menerima kematian Ibu. Andai aku bisa meminta pada tuhan, sebenarnya aku juga tidak ingin terlahir kedunia agar Ibuku bisa tetap hidup dan tertawa bersama keluarga yang sangat mencintainya.
“Ca...,Ica..”
Tepukan tangan Ayah di bahu ku menyadarkan lamunan ku. Segera ku seka air hangat yang mengalir di pipi, aku tak ingin Ayah tahu kalau aku menangis lagi.
“Ica kenapa? Kok nangis? Ayah ada salah sama ica?”.
“Nggak kok yah, ica cuma...”
“Kangen Ibu lagi?” ucap Ayah memotong kata-kata ku yang belum sempat selesai.
Sambil memegang kedua pundak ku Ayah menatap ku nanar. Mataku menjadi semakin panas hingga menumpahkan air hangat yang baru saja ku seka sejak kedatangan Ayah.
“Maafin Ica yah,” kataku lirih sambil menangis memegang kedua tangan Ayah.
“Sudahlah Ca, Ibumu pasti bahagia melihat anak perempuannya telah tumbuh menjadi gadis cantik dan soleha yang sebentar lagi akan menjadi sarjana pendidikan bahasa inggris,” kata Ayah mencoba menghIbur sembari mengelus kepala ku yang tertutup rapi oleh kerudung kaos berwarna biru.
Tiba-tiba kejutan suara klakson mobil di depan rumah menggerakkan tanganku dengan segera menghapus air yang sedari tadi membasahi wajah ku.  Dari teras depan rumah aku bisa melihat seorang anak kecil bersama seorang Ibu berjalan gontai di bawah payung merah jambu berusaha menghindari hujan yang semakin deras. Kini mereka berdua tepat berdiri di depan ku.
Good afternoon Mrs. Ica,” sapaan centil keluar dari bibir seorang anak perempuan mungil berambut panjang yang sIbuk membersihkan percikan air hujan yang mengenai rambut indahnya.
Belum sempat aku menjawab sapaan yang menghangatkan ku sore itu, suara perempuan disebelahnya langsung menyambar “Mrs. Ica titip anak saya ya, sudah saya bilang nggak usah les private dulu hari ini karena hujan tapi dia tetep aja kekeh minta diantar ke sini.”
“Ih.. mamah, aku kan pengen ketemu Mrs. Ica,” sambar anak kecil itu dengan manjanya.
Aku nyaris tak bisa berkata-kata lagi melihat kelakuan Ibu dan anak yang berada tepat di hadapan ku. “Yaudah kalau gitu Lala cium tangan mamah dulu ya, habis itu kita langsung Masuk ke kelas” kataku sambil memberikan senyuman hangat kepada Ibu dan anak yang luar biasa itu.
Setelah Lala mencium punggung tangan Ibunya ia pun mendapat kecupan hangat di keningnya. Pemandangan itu lagi-lagi membuat mata ku panas menahan air yang hendak tumpah. Tuhan, andai saja aku bisa meminta, aku ingin Ibu di hidupkan kembali satu menit saja, aku ingin memeluknya, menciumnya, membelai wajahnya dan mengatakan padanya bahwa aku sangat mencintainya.
Lala yang sedang melambaikan tangan ke arah mobil hitam itu kini menyadari air yang meluap dari sudut mata ku.
Mrs. Ica kenapa nangis, Lala udah jahat ya sama Mrs. Ica?” ucap Lala dengan nada merasa bersalah sambil menggoyang-goyangkan rok ku.
“Nggak kok Lala sayang, Mrs. Ica bangga aja liat anak kecil kayak kamu yang mau menuntut ilmu meski hujan begini,” kataku sambil menyentil hidung kecilnya “...yasudah ayuk Masuk ke kelas.”
Tak lama setelah kedatangan Lala beberapa anak juga berdatangan menyusul Masuk ke sebuah kamar tamu yang telah aku sulap menjadi ruang kelas yang indah.
Ya, sejak kuliah ku berusia semester tiga aku telah membuka les private bahasa inggris untuk anak-anak dan Masih berjalan hingga kini perkuliahanku meMasuki usia semester delapan, dan akan menjadi semester akhir. Aku sangat suka berinteraksi dengan anak-anak. Merekalah yang terkadang menghIburku dan mengajarkanku tentang pelajaran kehidupan.
Saat sedang asyik berbicara bahasa inggris dengan anak-anak didikku sebuah pesan singkat menggetarkan hp bututku. Ternyata dari Bunda.
Sayang besok sepulang kuliah temani Bunda ke pasar ya, Bunda tunggu lho besok.
Balas.
Oke Bunda sayang J
***
Terik matahari yang semakin menyengat membuat aku menambah laju sepeda motor yang ku kendarai. Aku sering tak tahan jika terlalu lama berkendara di atas sepeda motor, sebab global warming yang semakin parah membuat sinar matahari kini tak bersahabat lagi dengan kulitku meskipun aku selalu mengenakan baju dan rok panjang serta kerudung yang menjulur sampai menyentuh pinggang.
Akhirnya, tak sampai 20 menit aku dan Bunda sudah sampai di parkiran sebuah pasar tradisional. Ya, pagi tadi sebelum berangkat kuliah Bunda meminta ku menemaninya belanja ke pasar siang ini.
“Ca, bantu Bunda pilih ayam dong Bunda takut ada ayam yang nggak bagus kayak berita di tv itu,” ucap Bunda sambil tetap menatap dan mencolek-colek ayam yang sudah ditelanjangi dan dijejer di atas meja.
“Kok banyak bener bun beli dagingnya, tadi sudah beli daging sapi, terus beli daging ayam lagi. Siapa yang mau ngehabisin bun?” tanya ku penasaran dengan tingkah Bunda yang terlihat aneh.
“Hehe, maaf Ca saking senengnya Bunda lupa ngasih tahu kamu kalau hari ini Mas mu Kemal pulang dari Mesir.”
“Bunda... kenapa baru ngasih tahu sekarang, yasudah kalau gitu hari ini kita Masak spesial ya bun untuk menyambut Mas Kemal.”
Bunda. Begitulah aku biasa memanggil perempuan berkulit putih yang sebentar lagi genap berusia 50 tahun itu. Bunda adalah Ibu dari Mas Kemal yang kini menjadi kakak angkat ku. Rumah Bunda bersebelahan dengan tempat tinggal aku dan Ayah hingga sedari kecil aku sering di urus Bunda ketika Ayah kerja keluar kota. Tidak seperti Nenek, Kakek, Om atau Paman yang membenciku, Bunda bahkan tak mempunyai hubungan darah dengan ku atau dengan Ayah. Namun, sejak usia ku empat tahun ketika Bunda datang menjelma sebagai tetangga baru ku, Bunda telah  menjadi tempat ku belajar dan mengobati rinduku pada sosok seorang Ibu.
Aku ingat betul ketika pertama kali mengalami menstruasi, Ayah begitu panik dan kebingungan, untungnya ada Bunda. Ayah yang meminta tolong kepada Bunda untuk mengurus segala keperluan ku sebab kata Ayah ia tak begitu paham tentang urusan perempuan.
Waktu itu Bundalah yang membelikan ku seabrek pakaian dalam hingga aku lulus SMA. Dari Bundalah pertama kali aku tahu bagaimana cara memakai pembalut. Saat itu juga Bunda memberitahu aku ada sesuatu yang sangat berharga pada diri seorang perempuan yang harus dijaga.
Bunda selalu bilang ada batasan antara perempuan dan laki-laki. Bunda juga memberitahuku bagaimana aku harus bersikap di depan Ayah.
Meski dulu aku tak mengerti apa yang Bunda bilang tapi Bunda tak pernah bosan mengulang kalimat yang itu-itu saja agar aku ingat bahwa kehormatan seorang perempuan itu sangat berharga dari apapun.
Ketika aku lulus SMP Bunda tak henti-hentinya mengingatkan aku untuk tidak pacaran. Mas Kemal, anak laki-laki Bunda satu-satunya memilih untuk Masuk pesantren saat itu dan meneruskan  kuliah di Mesir dengan beasiswa full.
Aku bangga pada Bunda. Bagiku Bunda adalah sosok Ibu yang luar biasa. Bukan hanya aku yang berfikir seperti itu, bahkan Ibu-Ibu disekitar tempat tinggal ku juga bisa melihatnya dari Mas Kemal, anak yang berhasil Bunda didik hingga bukan kecerdasannya saja yang luar biasa, tapi juga akhlaknya yang sangat baik pada sesama terutama pada Bunda.
Awalnya Mas Kemal menolak untuk mengambil kesempatan beasiswa ke Mesir, tapi lagi-lagi kata-kata Bunda membuat aku bangga memiliki Bunda. Meski aku tahu Bunda akan sedih berpisah dengan Mas Kemal tapi dengan tegar Bunda bilang ke Mas Kemal “Bunda ikhlas Mas kalau kamu pergi untuk menuntut ilmu, apalagi ilmu agama. Nggak ada yang bisa Bunda wariskan ke kamu Mas selain ilmu, ambillah kesempatan itu Mas, lagian kalau pakai uang Bunda nggak mungkin kamu bisa kuliah ke luar negeri kan?.”
Mataku nanar menatap Bunda yang terlihat begitu bahagia menyambut kedatangan Mas Kemal setelah hampir empat tahun mereka tak bertemu. Meskipun aku hanya bisa melihat sosok Ibu dari selembar kertas foto pernikahan Ayah dan Ibu, tapi aku sangat bersyukur pada tuhan karena telah di pertemukan dengan Bunda. Aku telah menganggap Bunda seperti Ibu ku sendiri, begitu juga Bunda yang menganggap aku seperti anaknya sendiri. Sampai-sampai Bunda pernah demam katanya ia sangat merindukan ku ketika aku pergi praktik mengajar ke sebuah desa yang jauh dari kotaku selama satu bulan.
“Ca.. Ica...” Lambaian tangan Bunda tepat di depan wajah ku membuyarkan semua lamunan ku.
“Kok ngelamun?”
“Ehh, anu bun, belanjanya sudah? Sini biar Ica yang bawa.”
Sepulang dari pasar aku dan Bunda langsung meMasak semua bahan yang telah di beli. Ketika sedang mencuci sayuran mata ku tiba-tiba saja menoleh ke sebuah jendela terbuka tanpa kain gorden yang terletak di sudut dapur.
Mataku menangkap wajah yang sangat aku kenal sedang tersenyum. Berulang kali ku pijat pelupuk mataku. Ahh, ini benar-benar nyata, sepertinya sudah dari tadi ia melihat aku dan Bunda bekerja di dapur.
“Mas Kemal,” ucap ku berteriak kegirangan.
Bunda yang juga menyadari kedatangan Mas Kemal langsung berlari tergopoh membuka pintu depan.
“Assalamualaikum Bunda,” salam Mas Kemal yang sudah ada di depan pintu lebih dulu terdengar lirih dan langsung berlutut memeluk kaki Bunda yang berdiri terpaku seolah tak percaya anaknya tiba begitu cepat. “Bunda maafin Mas baru bisa pulang sekarang, Mas kangen banget sama Bunda,” Suara lirih Mas Kemal dan isakan tangisnya membuat tangis ku juga ikut pecah.
“Bunda juga kangen banget sama kamu Mal.”
*
“Di makan lagi dong Mas ayam gorengnya, Ica yang Masak loh, tapi di bantu Bunda hehe,” ucap ku melihat nafsu makan kakak angkatku seperti orang yang baru menemukan makanan setelah tidak makan seminggu.
“Jadi sekarang adikku Khairunnisa alias Ica sudah bisa goreng ayam toh, biasanya kan kamu cuma bisa bantu-bantu nyuciin sayur doang,” ledekan Mas Kemal disertai tawanya yang khas membuat aku memonyongkan bibir.
Setelah makan malam, aku, Bunda dan Mas Kemal melanjutkan ngobrol dan kangen-kangenan di ruang tamu.
“Mas Kemal kenapa sih tadi sore pakai acara ngintip di jendela dapur segala, nggak Masuk lewat depan aja,” tanyaku sambil membuka hadiah dan oleh-oleh dari Mas Kemal.
“Lha wong pintunya di kunci gimana mau Masuk, lagian Mas sudah ketuk dua kali tapi nggak ada yang jawab yaudah Mas lewat belakang saja. Mas juga takut di usir Bunda seperti kejadian waktu Mas pulang dari pesantren kelas 2 dulu.”
“Oh kejadian yang itu,” aku langsung tertawa mengingatnya, tawa khas ledekan.
Aku jadi geli sendiri kalau mengingat kejadian itu, sebenarnya yang membuat aku geli adalah ekspresi wajah Mas Kemal saat itu. Tapi lagi-lagi aku bangga pada Bunda. Jadi ceritanya waktu itu Mas Kemal lagi libur semester naik kelas 2, karena teman-temannya banyak yang pulang ke rumah Masing-Masing  ia pun memutuskan untuk pulang juga ke rumah.
Setibanya di rumah Mas Kemal mengetuk pintu dengan salam seperti biasanya, namun tak ada yang menjawab hingga ia mengetuknya lebih keras dan dengan ucapan salam yang lebih keras juga dan tak berhenti. Ternyata Bunda yang ada di dalam sedang solat.
Seketika itu juga Bunda keluar dengan raut wajah kecewa dan marah. Aku ingat betul kata-kata Bunda waktu itu “Kemal, apa yang sudah kamu lakukan? Ternyata satu tahun belajar di pondok pesantren belum juga membuat akhlak kamu baik, kalau begitu kembalilah lagi ke pesantren nak dan jangan pulang sebelum akhlak buruk mu kamu perbaiki,” seru Bunda dengan jari telunjuk menunjuk kedepan lalu kembali menutup pintu.
“Ya nggak mungkin lah Mas Kemal di suruh balik lagi ke Mesir, dulu kan karena jarak pesantren dengan rumah nggak terlalu jauh makanya Bunda berani nyuruh Mas balik lagi, ya kan bun? Hehe.”
“Yang pasti Bunda nggak mau kalau anak-anak Bunda cuma hebat ilmunya tapi buruk akhlaknya,” sambut Bunda menjawab perkataan ku.
Mendengar kata-kata Bunda, aku hanya bisa tersenyum sambil menatap dalam wajah Bunda yang sedang asyik membolak-balik gamis pemberian Mas Kemal. Kulihat Mas Kemal juga memandang Bunda dengan tatapan mata penuh cinta, cinta hangat seorang anak untuk Bundanya.
Malam itu aku habiskan dengan mencoba hadiah dan oleh-oleh dari Mesir, mendengarkan pengalaman Mas Kemal selama di luar negeri, dan yang paling aku suka tertawa dan berbagi cinta dengan Bunda.
I love you Bunda.


















Benci???



Sebenarnya catatan ini nggak penting untuk dibaca. Lebih baik JANGAN DIBACA. Karena kamu tidak akan menemukan apa-apa disini.
Guys apa yang akan kamu lakukan jika Kemarin ada temen kelas yang bilang nggak suka sama kamu, sama sifat mu dan kata-kata mu, katanya, Dia suruh kamu berubah agar kata-katamu tidak terlalu ketus padanya.
Apa yang akan kamu lakukan guys?. Mengatakan padanya kalau sebenarnya kamu juga nggak suka dengan sifat teman mu yang temprament itu atau menerima kritik dan sarannya?
Tuh kan nggak penting, udahan deh bacanya, JANGAN DITERUSIN.
Ya, kemarin hal itu terjadi pada ku. Tapi aku hanya menerima semua yang dikatakannya  dengan senyuman. Aku memang sempat nggak suka dengan sifat dan kelakuan teman ku yang nggak suka padaku itu.
Tapi yasudahlah. Dalam prinsipku jika ada orang yang menyakitiku aku harus melupakan perbuatannya dan mengingat kebaikannya. Hal itu membuat aku tak sedikitpun menimbun rasa benci yang berubah menjadi dendam seperti dia.
Aku sadar, aku masih banyak kekurangan, aku masih sering melakukan kesalahan. So, aku akan terima jika ada orang yang membenci ku. Sebab, Rasulullah manusia yang paling mulia saja masih banyak dibenci oleh orang, ya meskipun yang membencinya adalah orang-orang kafir quraisy.
Tapi aku akan terus memperbaiki diriku, kelakuan ku dan semua keburukan ku. Jika masih ada yang tidak terima dengan proses hidup ku, yasudah. Aku hidup juga bukan untuk menyenangkan hati mereka.
Sebenarnya di acara tersebut aku ingin bilang ke beberapa orang yang tidak aku suka utuk memperbaiki dirinya juga. Tapi aku mengurungkan niat itu karena aku merasa nggak pantas mengatakan hal itu. Aku nggak pantas membenci orang lain, sebab belum tentu semua orang suka padaku. Aku juga nggak pantas menyuruh orang untuk memperbaiki dirinya, sebab diriku saja belum tentu lebih baik darinya.

Rabu, 16 Desember 2015

Tanpa judul



Hai guys, apa kabar?. Sewaktu aku lagi pusing mikiri tugas-tugas kuliah, iseng-iseng aku buat cerpen, tepatnya cuma penggalan cerpen karena belum selesai. Sebenarnya sih pengen buat novel. Hehe.
Ceritanya tentang seorang perempuan bernama Khairunnisa alias Ica yang berjuang agar tetap istiqomah dengan jalan yang dipilihnya setelah ia hijrah menjadi akhwat atau muslimah yang insya allah saliha. Namun jo, laki-laki yang pernah menjadi mantan pacar ica sewaktu SMP  tiba-tiba datang mengganggu, dan hampir merobohkan benteng keimanan ica yang kini memegang prinsip nggak pacaran sebelum menikah. Lantas apakah yang harus dilakukan ica? Mampukah ia mempertahankan bentengnya? Berhasilkah jo merobohkannya? Yuk baca ceritanya. Edisi bersambung loh. Hehe.
***  
Lagu peterpan ada apa dengan mu menemani ku siang itu sambil berbaring di kasur. Nggak ada kegiatan yang aku lakukan selain menyelesaikan tugas menulis yang masih belum selesai. Pas lagi liat-liat notifikasi di bbm tiba-tiba aku melihat Laki-laki itu baru ganti dp 6 menit yang lalu. Laki-laki itu bernama Johan  yang akrab di sapa Jo, ia pernah mengisi ruang hati ku dulu sewaktu aku duduk di sekolah menengah pertama. Ya meskipun masih cinta monyet tapi aku nggak bisa ngelupain dia gitu aja.
Entah rasa apa yang tiba-tiba melintas di hati ku. Sambil sejenak melihat foto Jo ada perasaan bersalah karena aku telah mengganti no hp ku agar tidak diketahuinya, agar dia nggak lagi nelfon-nelfon aku, karena beberapa minggu ini Jo sering menghubungi ku lewat telfon dan sms, entah dari mana ia tahu no hp ku setelah sekian tahun ia menghilang. Meskipun gitu pertemanan di media sosial nggak aku hapus karena aku juga jarang online di medsos.
“Nggak..nggak. Aku nggak bersalah apa-apa”. Wahai hati sadarlah apa yang kau lakukan itu sudah benar, menjauh dari Jo untuk menjaga agar kalian nggak berkhalwat dan yang pasti nggak pacaran lagi. Ya, memang seharusnya dari dulu kau tidak dekat dengan nya agar tak ada kotoran yang menodai hati mu. “Kau harus ingat bahwa Ica yang sekarang bukanlah seperti Ica yang dulu yang berperilaku, berpenampilan seperti orang jahiliyah. Bukankah sekarang kau telah berhijrah dari masa-masa jahiliyah mu?” ucap ica yang masih bergelut dengan dirinya sendiri.
Ya Allah, apakah ini cinta. Tapi mengapa aku harus mencintai dia?. Bukan laki-laki seperti dia yang ku inginkan sebagai pendamping ku nanti ya Allah.
Entah lah. Entah apa yang ada pada dirinya yang membuat aku merasakan rasa yang seperti ini. Kalau berbicara tentang “ikhwan” dia bukanlah seorang “ikhwan”. Dia hanya seorang  laki-laki seperti rata-rata laki-laki pada umumnya. Banyak sekali kebiasaan-kebiasaan yang seharusnya tidak dilakukan laki-laki soleh menjadi kebiasaannya. Mungkin aku hanya teringat masa-masa lalu dengannya. Sebab dia pernah menjadi cinta monyet ku. Tapi itu dulu. Sekarang aku telah hijrah dari keadaan jahiliyah itu, dan aku nggak boleh kembali lagi seperti dulu.
Maafkan aku ya Allah, maafkan aku yang telah men-judge makhluk mu seperti itu. Ya,  Aku sadar, aku belum menjadi  ”akhwat” yang baik. Wajar kalau saat ini Allah mempertemukan ku dengan laki-laki pemarah sebab memang aku belum bisa mengontrol emosi ku. Wajar kalau saat ini Allah mempertemukan ku dengan lelaki yang tidak menjaga auratnya sebab memang aku belum bisa menjaga aurat ku dengan baik di depan perempuan non muslim. Wajar kalau saat ini Allah mempertemukan ku dengan lelaki yang suka bolong solat nya sebab memang aku belum bisa menjaga solat tepat waktu apalagi menjaga solat-solat sunnah.
Ya Allah ampuni aku. Aku memang belum pantas mendapatkan yang lebih baik. Tapi apakah salah kalau aku yang hina ini mengharapkan laki-laki yang soleh sebagai pendamping ku kelak?. Mungkinkah? Mungkinkah aku mendapatkan seorang  “ikhwan” yang soleh?.
Tapi bagaimana dengan rasa ini. Rasa pada Jo yang tak bisa ku artikan dengan bahasa ku. Mungkinkah ketika aku telah berhasil menjadi “akhwat”  yang soleha dan istiqomah Allah akan menjadikan lelaki itu menjadi “ikhwan” yang soleh?.
Ah entahlah. Apa yang harus aku lakukan?.

TENTANG SAYA




Nama saya Nova winda sari, putri pertama dari pasangan suami istri Mistiadi dan Rinem. Saya lahir di Sumberjo pada 12 Juli 1995 hari rabu jam tiga sore tepatnya di gudang rumah nenek saya. Saya memiliki seorang adik perempuan bernama Desi Windi Ramadani. Kata orang adik saya lebih tinggi dan lebih cantik dari saya meskipun umur kami beda delapan tahun. Disitu kadang saya merasa sedih.
Saat ini saya tercatat sebagai mahasiswi jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam di Universitas Bengkulu semester lima. Waktu SMA saya suka pelajaran kimia tapi udah semester lima banyak yang bilang kalau saya salah jurusan, katanya saya lebih baik masuk jurusan bisnis. Sebab saya suka berwirausaha sejak SMP sampai sekarang, karena sering berbisnis saya selalu jadi koordinator dana dan usaha atau nggak ekuin (ekonomi,keuangan dan investasi) di sebuah kepanitiaan atau kepengurusan. Kadang saya juga sadar akan hal itu. Tapi nasi sudah menjadi bubur, saya mau buat bubur yang enak aja sekarang. Mungkin nanti saya bisa mewujudkan salah satu cita-cita saya yaitu menjadi dosen sekaligus pengusaha dengan ratusan ribu karyawan.
Saya memiliki hobi membaca, menulis, dan berpetualang. Tapi saya juga suka bercerita, mendengarkan dan membuat orang di sekiling saya bahagia. Saya suka menyanyi dan bermain gitar, ya meski ga terlalu pandai tapi banyak yang suka kok. Selain itu saya juga suka mencoba hal-hal baru. Saya pernah menjadi announcer di salah satu stasiun radio di kota Bengkulu, pernah juga menjadi pengajar di salah satu bimbingan belajar di kota Bengkulu. Dan saya ingin sekali mencoba menjadi badut keliling, karena saya suka sekali dengan badut, kapan-kapan saya akan upload foto saya pakai pakaian badut.
 Untuk prestasi semasa kuliah nggak banyak sih, saya cuma pernah menjuarai lomba Nasyid se-kota Bengkulu dan meraih juara 1 dan juga pernah menjuarai lomba cerpen yang di adakan oleh MGC dan meraih juara 2. Saya menganggap itu adalah sebuah keajaiban, mungkin jurinya salah tulis nilai kali. Hehe.
Saya orangnya suka bersahabat, suka mencari teman baru dan pengalaman baru. Hal tersebut membuat saya kini aktif mengikuti beberapa Unit Kegiatan Mahasiwa (UKM) baik internal kampus maupun eksternal kampus, seperti, Generasi Saintis Islam (GSI), Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas MIPA UNIB, Anggota Biasa 1 KAMMI Komisariat Tepi Barat, koperasi mahasiswa (KOPMA), dan lain-lain.
Mungkin sampai itu dulu perkenalan saya. Kritik dan saran sangat saya harapkan, anda bisa mengunjungi saya di tempat-tempat berikut. Hehe.
Email               : novawindasari8@gmail.com
Instagram        : nova_winda8
Facebook         : Nova Winda Sari
Twitter            : @07Azzahra
Line id             : nwswinda
atau berbagi cerita di  blog ini.