Rabu, 02 Desember 2015

Edisi makan mie ayam

    Sepulang kuliah siang tadi gua dan teman-teman menuju warung mie ayam favorite mahasiswa. Gua menjulukinya warung favorite karena memang warung itu selalu ramai di kunjungi pembeli yang rata-rata adalah mahasiswa. padahal rasanya sama aja tuh kayak mie ayam pada umumnya. Ya, apalagi yang menjadi favorite bagi mahasiswa kalau bukan harga yang murah dan isi yang banyak. hehe.
   Tapi disini gua nggak akan membahas mie ayam yang murah dan banyak ataupun warung mie ayam yang selalu di kunjungi mahasiswa. Yang ingin gua bahas adalah tentang seorang bapak tua.
    Lah apa hubungannya bapak tua dengan mie ayam?. 
  Jadi gini ceritanya. Tadi pas lagi asyik makan mie ayam bareng temen-temen, ada seorang bapak-bapak tua yang tiba-tiba datang sambil menengadahkan tangan di depan gua dan teman-teman ku. kira-kira umur bapak itu sudah 70 an gitu, kulitnya sudah mengkerut seperti kerupuk yang kena hujan, warna kulitnya juga gelap seperti sering terbakar sinar matahari, selain itu gerak langkahnya juga menandakan bahwa ia sudah renta.
    Melihat bapak tua tersebut yang lebih cocok di panggil kakek, gua jadi teringat kakek ku di kampung. Tanpa fikir panjang gua dan teman ku yang duduk satu meja dengan ku langsung memberikan beberapa lembar uang duaribuan.
     Tiba-tiba saja setelah kakek tua itu berpindah ke meja di sebelah kami, bapak penjual mie ayam melarang pembeli mie ayam tersebut memberikan uang kepada kakek tua itu, hingga kakek itu pun pergi meninggalkan warung tersebut.
      Tak lama setelah kakek tua itu pergi bapak penjual mie ayam tersebut berkata kepada kami yang ada di warungnya saat itu "Jangan tertipu mbak sama pengemis tadi, dia itu orang kaya, anaknya 4 sudah jadi PNS semua, rumahnya juga mewah, selain itu dia juga punya usaha kos-kosan".
       Sejenak gua dan ketiga teman ku saling pandang dengan tatapan bingung dan tak percaya.
      Menurut kamu sendiri gimana, sebenarnya siapa yang bohong pengemis tadi atau penjual mie ayam itu?. memang di zaman edan sekarang ini banyak orang yang hidupnya sudah berkecukupan menjadikan mengemis sebagai  profesi mereka. Hal tersebut lah yang membuat orang-orang dermawan enggan memberikan sebagian dari rezki mereka.
      Hal tersebut terjadi di warung mie ayam itu. sebagian pembeli yang ada disitu dan juga penjualnya tadi memperdebatkan masalah pengemis tersebut.
        kalau menurut gua sih untuk apa memperdebatkan kalo pengemis tadi punya anak yang jadi PNS, punya rumah mewah dan lain-lain. kalau emang mau ngasih yaudah kasih, kalau nggak yaudah bilang maaf, simple kan, nggak perlu cerita panjang lebar yang nggak tau kebenarannya. lagian cuma ngasih seribu aja pertimbangan banget. toh  nggak ada kan orang yang jadi miskin gara-gara ngasih duit seribu ke pengemis.
        Masalah pengemis tadi bohong kalau ia sebenarnya adalah orang berada mah itu urusan dia sama Tuhan. kalau gua sih lebih melihat ke fisiknya. Coba deh kamu bayangin seorang kakek tua renta, jalan juga susah, apa salahnya kita memberi uang seribu perak.
         Kalau kakek tua itu di suruh kerja, loe bayangin aja kerjaan apa yang bisa di kerjain seorang kakek tua renta yang untuk jalan aja susah.Wajarkan beliau minta-minta.
          Kalau pun benar anaknya seorang PNS menurut loe siapa yang  salah, anaknya atau bapak nya yang menjadi pengemis?. menurut gua pasti kakek tua itu punya alasan kenapa dia harus mengemis. gua lihat itu ketika ada seorang pembeli mie ayam di warung tadi yang nanya dimana rumah kakek tersebut dan kakek itu menjawab dengan terbata-bata.
         Rasanya gua pengen ketemu dengan anak kakek tua itu, gua pengen bilang ke mereka kalau mereka telah menyia-nyiakan kunci surga mereka, mereka telah menyia-nyiakan ridho Tuhan mereka.
           Gua nggak abis fikir deh, kok tega seorang anak yang bisa makan enak melihat orangtuanya menjadi seorang pengemis. Suatu saat kan kita juga bakalan jadi orang tua. Emangnya loe mau di masa tua loe di telantari, nggak di urusi sama anak-anak loe, mau?.
           Ntar deh kapan-kapan gua bahas kenapa loe harus berbakti sama orang tua loe. Tadinya sih gua pengen masukin foto kakek tua tadi biar loe juga merasakan apa yang gua rasa, tapi tadi gua nggak sempat fotoin saking khusyuknya makan mie ayam. hehe.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar