Sepulang kuliah siang tadi gua
dan teman-teman menuju warung mie ayam favorite mahasiswa. Gua menjulukinya
warung favorite karena memang warung itu selalu ramai di kunjungi pembeli yang
rata-rata adalah mahasiswa. padahal rasanya sama aja tuh kayak mie ayam pada
umumnya. Ya, apalagi yang menjadi favorite bagi mahasiswa kalau bukan harga
yang murah dan isi yang banyak. hehe.
Tapi disini gua nggak akan membahas
mie ayam yang murah dan banyak ataupun warung mie ayam yang selalu di kunjungi
mahasiswa. Yang ingin gua bahas adalah tentang seorang bapak tua.
Lah apa hubungannya bapak tua
dengan mie ayam?.
Jadi gini ceritanya. Tadi pas lagi asyik
makan mie ayam bareng temen-temen, ada seorang bapak-bapak tua yang tiba-tiba
datang sambil menengadahkan tangan di depan gua dan teman-teman ku. kira-kira
umur bapak itu sudah 70 an gitu, kulitnya sudah mengkerut seperti kerupuk yang
kena hujan, warna kulitnya juga gelap seperti sering terbakar sinar matahari,
selain itu gerak langkahnya juga menandakan bahwa ia sudah renta.
Melihat bapak tua tersebut
yang lebih cocok di panggil kakek, gua jadi teringat kakek ku di kampung. Tanpa
fikir panjang gua dan teman ku yang duduk satu meja dengan ku langsung
memberikan beberapa lembar uang duaribuan.
Tiba-tiba saja setelah
kakek tua itu berpindah ke meja di sebelah kami, bapak penjual mie ayam
melarang pembeli mie ayam tersebut memberikan uang kepada kakek tua itu, hingga
kakek itu pun pergi meninggalkan warung tersebut.
Tak lama setelah
kakek tua itu pergi bapak penjual mie ayam tersebut berkata kepada kami yang
ada di warungnya saat itu "Jangan tertipu mbak sama pengemis tadi, dia itu
orang kaya, anaknya 4 sudah jadi PNS semua, rumahnya juga mewah, selain itu dia
juga punya usaha kos-kosan".
Sejenak gua
dan ketiga teman ku saling pandang dengan tatapan bingung dan tak percaya.
Menurut kamu
sendiri gimana, sebenarnya siapa yang bohong pengemis tadi atau penjual mie
ayam itu?. memang di zaman edan sekarang ini banyak orang yang hidupnya sudah
berkecukupan menjadikan mengemis sebagai profesi mereka. Hal tersebut lah
yang membuat orang-orang dermawan enggan memberikan sebagian dari rezki mereka.
Hal tersebut
terjadi di warung mie ayam itu. sebagian pembeli yang ada disitu dan juga
penjualnya tadi memperdebatkan masalah pengemis tersebut.
kalau menurut gua sih
untuk apa memperdebatkan kalo pengemis tadi punya anak yang jadi PNS, punya
rumah mewah dan lain-lain. kalau emang mau ngasih yaudah kasih, kalau nggak
yaudah bilang maaf, simple kan, nggak perlu cerita panjang lebar yang nggak tau
kebenarannya. lagian cuma ngasih seribu aja pertimbangan banget. toh
nggak ada kan orang yang jadi miskin gara-gara ngasih duit seribu ke pengemis.
Masalah pengemis tadi
bohong kalau ia sebenarnya adalah orang berada mah itu urusan dia sama Tuhan.
kalau gua sih lebih melihat ke fisiknya. Coba deh kamu bayangin seorang kakek
tua renta, jalan juga susah, apa salahnya kita memberi uang seribu perak.
Kalau kakek tua
itu di suruh kerja, loe bayangin aja kerjaan apa yang bisa di kerjain seorang
kakek tua renta yang untuk jalan aja susah.Wajarkan beliau minta-minta.
Kalau pun
benar anaknya seorang PNS menurut loe siapa yang salah, anaknya atau
bapak nya yang menjadi pengemis?. menurut gua pasti kakek tua itu punya alasan
kenapa dia harus mengemis. gua lihat itu ketika ada seorang pembeli mie ayam di
warung tadi yang nanya dimana rumah kakek tersebut dan kakek itu menjawab dengan
terbata-bata.
Rasanya gua pengen ketemu dengan anak kakek tua itu, gua pengen bilang ke
mereka kalau mereka telah menyia-nyiakan kunci surga mereka, mereka telah
menyia-nyiakan ridho Tuhan mereka.
Gua nggak abis fikir deh, kok tega seorang anak yang bisa makan enak melihat
orangtuanya menjadi seorang pengemis. Suatu saat kan kita juga bakalan jadi
orang tua. Emangnya loe mau di masa tua loe di telantari, nggak di urusi sama
anak-anak loe, mau?.
Ntar deh kapan-kapan gua bahas kenapa loe harus berbakti sama orang tua loe.
Tadinya sih gua pengen masukin foto kakek tua tadi biar loe juga merasakan apa
yang gua rasa, tapi tadi gua nggak sempat fotoin saking khusyuknya makan mie
ayam. hehe.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar