Rabu, 16 Desember 2015

Tanpa judul



Hai guys, apa kabar?. Sewaktu aku lagi pusing mikiri tugas-tugas kuliah, iseng-iseng aku buat cerpen, tepatnya cuma penggalan cerpen karena belum selesai. Sebenarnya sih pengen buat novel. Hehe.
Ceritanya tentang seorang perempuan bernama Khairunnisa alias Ica yang berjuang agar tetap istiqomah dengan jalan yang dipilihnya setelah ia hijrah menjadi akhwat atau muslimah yang insya allah saliha. Namun jo, laki-laki yang pernah menjadi mantan pacar ica sewaktu SMP  tiba-tiba datang mengganggu, dan hampir merobohkan benteng keimanan ica yang kini memegang prinsip nggak pacaran sebelum menikah. Lantas apakah yang harus dilakukan ica? Mampukah ia mempertahankan bentengnya? Berhasilkah jo merobohkannya? Yuk baca ceritanya. Edisi bersambung loh. Hehe.
***  
Lagu peterpan ada apa dengan mu menemani ku siang itu sambil berbaring di kasur. Nggak ada kegiatan yang aku lakukan selain menyelesaikan tugas menulis yang masih belum selesai. Pas lagi liat-liat notifikasi di bbm tiba-tiba aku melihat Laki-laki itu baru ganti dp 6 menit yang lalu. Laki-laki itu bernama Johan  yang akrab di sapa Jo, ia pernah mengisi ruang hati ku dulu sewaktu aku duduk di sekolah menengah pertama. Ya meskipun masih cinta monyet tapi aku nggak bisa ngelupain dia gitu aja.
Entah rasa apa yang tiba-tiba melintas di hati ku. Sambil sejenak melihat foto Jo ada perasaan bersalah karena aku telah mengganti no hp ku agar tidak diketahuinya, agar dia nggak lagi nelfon-nelfon aku, karena beberapa minggu ini Jo sering menghubungi ku lewat telfon dan sms, entah dari mana ia tahu no hp ku setelah sekian tahun ia menghilang. Meskipun gitu pertemanan di media sosial nggak aku hapus karena aku juga jarang online di medsos.
“Nggak..nggak. Aku nggak bersalah apa-apa”. Wahai hati sadarlah apa yang kau lakukan itu sudah benar, menjauh dari Jo untuk menjaga agar kalian nggak berkhalwat dan yang pasti nggak pacaran lagi. Ya, memang seharusnya dari dulu kau tidak dekat dengan nya agar tak ada kotoran yang menodai hati mu. “Kau harus ingat bahwa Ica yang sekarang bukanlah seperti Ica yang dulu yang berperilaku, berpenampilan seperti orang jahiliyah. Bukankah sekarang kau telah berhijrah dari masa-masa jahiliyah mu?” ucap ica yang masih bergelut dengan dirinya sendiri.
Ya Allah, apakah ini cinta. Tapi mengapa aku harus mencintai dia?. Bukan laki-laki seperti dia yang ku inginkan sebagai pendamping ku nanti ya Allah.
Entah lah. Entah apa yang ada pada dirinya yang membuat aku merasakan rasa yang seperti ini. Kalau berbicara tentang “ikhwan” dia bukanlah seorang “ikhwan”. Dia hanya seorang  laki-laki seperti rata-rata laki-laki pada umumnya. Banyak sekali kebiasaan-kebiasaan yang seharusnya tidak dilakukan laki-laki soleh menjadi kebiasaannya. Mungkin aku hanya teringat masa-masa lalu dengannya. Sebab dia pernah menjadi cinta monyet ku. Tapi itu dulu. Sekarang aku telah hijrah dari keadaan jahiliyah itu, dan aku nggak boleh kembali lagi seperti dulu.
Maafkan aku ya Allah, maafkan aku yang telah men-judge makhluk mu seperti itu. Ya,  Aku sadar, aku belum menjadi  ”akhwat” yang baik. Wajar kalau saat ini Allah mempertemukan ku dengan laki-laki pemarah sebab memang aku belum bisa mengontrol emosi ku. Wajar kalau saat ini Allah mempertemukan ku dengan lelaki yang tidak menjaga auratnya sebab memang aku belum bisa menjaga aurat ku dengan baik di depan perempuan non muslim. Wajar kalau saat ini Allah mempertemukan ku dengan lelaki yang suka bolong solat nya sebab memang aku belum bisa menjaga solat tepat waktu apalagi menjaga solat-solat sunnah.
Ya Allah ampuni aku. Aku memang belum pantas mendapatkan yang lebih baik. Tapi apakah salah kalau aku yang hina ini mengharapkan laki-laki yang soleh sebagai pendamping ku kelak?. Mungkinkah? Mungkinkah aku mendapatkan seorang  “ikhwan” yang soleh?.
Tapi bagaimana dengan rasa ini. Rasa pada Jo yang tak bisa ku artikan dengan bahasa ku. Mungkinkah ketika aku telah berhasil menjadi “akhwat”  yang soleha dan istiqomah Allah akan menjadikan lelaki itu menjadi “ikhwan” yang soleh?.
Ah entahlah. Apa yang harus aku lakukan?.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar