Hai guys, apa kabar?. Sewaktu aku lagi pusing mikiri
tugas-tugas kuliah, iseng-iseng aku buat cerpen, tepatnya cuma penggalan cerpen
karena belum selesai. Sebenarnya sih pengen buat novel. Hehe.
Ceritanya tentang seorang perempuan bernama
Khairunnisa alias Ica yang berjuang agar tetap istiqomah dengan jalan yang
dipilihnya setelah ia hijrah menjadi akhwat atau muslimah yang insya allah
saliha. Namun jo, laki-laki yang pernah menjadi mantan pacar ica sewaktu
SMP tiba-tiba datang mengganggu, dan
hampir merobohkan benteng keimanan ica yang kini memegang prinsip nggak pacaran
sebelum menikah. Lantas apakah yang harus dilakukan ica? Mampukah ia
mempertahankan bentengnya? Berhasilkah jo merobohkannya? Yuk baca ceritanya.
Edisi bersambung loh. Hehe.
***
Lagu peterpan ada apa dengan mu menemani ku siang
itu sambil berbaring di kasur. Nggak ada kegiatan yang aku lakukan selain
menyelesaikan tugas menulis yang masih belum selesai. Pas lagi liat-liat notifikasi
di bbm tiba-tiba aku melihat Laki-laki itu baru ganti dp 6 menit yang lalu. Laki-laki
itu bernama Johan yang akrab di sapa Jo,
ia pernah mengisi ruang hati ku dulu sewaktu aku duduk di sekolah menengah
pertama. Ya meskipun masih cinta monyet tapi aku nggak bisa ngelupain dia gitu
aja.
Entah rasa apa yang tiba-tiba melintas di hati ku.
Sambil sejenak melihat foto Jo ada perasaan bersalah karena aku telah mengganti
no hp ku agar tidak diketahuinya, agar dia nggak lagi nelfon-nelfon aku, karena
beberapa minggu ini Jo sering menghubungi ku lewat telfon dan sms, entah dari
mana ia tahu no hp ku setelah sekian tahun ia menghilang. Meskipun gitu
pertemanan di media sosial nggak aku hapus karena aku juga jarang online di
medsos.
“Nggak..nggak. Aku nggak bersalah apa-apa”. Wahai
hati sadarlah apa yang kau lakukan itu sudah benar, menjauh dari Jo untuk
menjaga agar kalian nggak berkhalwat dan yang pasti nggak pacaran lagi. Ya,
memang seharusnya dari dulu kau tidak dekat dengan nya agar tak ada kotoran
yang menodai hati mu. “Kau harus ingat bahwa Ica yang sekarang bukanlah seperti
Ica yang dulu yang berperilaku, berpenampilan seperti orang jahiliyah. Bukankah
sekarang kau telah berhijrah dari masa-masa jahiliyah mu?” ucap ica yang masih
bergelut dengan dirinya sendiri.
Ya Allah, apakah ini cinta. Tapi mengapa aku harus
mencintai dia?. Bukan laki-laki seperti dia yang ku inginkan sebagai pendamping
ku nanti ya Allah.
Entah lah. Entah apa yang ada pada dirinya yang
membuat aku merasakan rasa yang seperti ini. Kalau berbicara tentang “ikhwan”
dia bukanlah seorang “ikhwan”. Dia hanya seorang laki-laki seperti rata-rata laki-laki pada
umumnya. Banyak sekali kebiasaan-kebiasaan yang seharusnya tidak dilakukan
laki-laki soleh menjadi kebiasaannya. Mungkin aku hanya teringat masa-masa lalu
dengannya. Sebab dia pernah menjadi cinta monyet ku. Tapi itu dulu. Sekarang
aku telah hijrah dari keadaan jahiliyah itu, dan aku nggak boleh kembali lagi
seperti dulu.
Maafkan aku ya Allah, maafkan aku yang telah
men-judge makhluk mu seperti itu. Ya, Aku sadar, aku belum menjadi ”akhwat” yang baik. Wajar kalau saat ini
Allah mempertemukan ku dengan laki-laki pemarah sebab memang aku belum bisa mengontrol
emosi ku. Wajar kalau saat ini Allah mempertemukan ku dengan lelaki yang tidak
menjaga auratnya sebab memang aku belum bisa menjaga aurat ku dengan baik di
depan perempuan non muslim. Wajar kalau saat ini Allah mempertemukan ku dengan
lelaki yang suka bolong solat nya sebab memang aku belum bisa menjaga solat
tepat waktu apalagi menjaga solat-solat sunnah.
Ya Allah ampuni aku. Aku memang belum pantas
mendapatkan yang lebih baik. Tapi apakah salah kalau aku yang hina ini
mengharapkan laki-laki yang soleh sebagai pendamping ku kelak?. Mungkinkah?
Mungkinkah aku mendapatkan seorang
“ikhwan” yang soleh?.
Tapi bagaimana dengan rasa ini. Rasa pada Jo yang
tak bisa ku artikan dengan bahasa ku. Mungkinkah ketika aku telah berhasil
menjadi “akhwat” yang soleha dan
istiqomah Allah akan menjadikan lelaki itu menjadi “ikhwan” yang soleh?.
Ah entahlah. Apa yang harus aku lakukan?.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar