LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR-DASAR BIOKIMIA
DISUSUN OLEH :
Nama
: Nova Winda Sari
Npm
: F1B013031
Kelompok
: VII (tujuh)
Hari, Tanggal
: Selasa, 08 Desember 2015
Dosen
: 1. Dyah Fitriani S.Si, M.Sc
2. Dwita Oktiarni S.Si, M.Si
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS BENGKULU
2015
PENENTUAN KADAR VITAMIN C
I.
Tujuan
1.
Mengetahui cara
penentuan vitamin C dalam suatu sample
II.
Landasan Teori
Vitamin C merupakan salah satu zat gizi
yang berperan sebagai antioksidan dan efektif
mengatasi radikal bebas yang dapat merusak sel atau jaringan. Buah-buahan
merupakan sumber vitamin C, diantaranya yaitu buah mangga.
Berdasarkan penelitian Karinda dkk.
(2009) tentang perbandingan hasil penetapan kadar vitamin C mangga dodol dengan
menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis dan iodometri, bahwa menentukan
kadar vitamin C dapat dilakukan dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Bahkan
terdapat perbedaan yang nyata antara metode spektrofotometri UV-Vis dengan
metode iodimetri, yaitu hasil dari metode spektrofotometri UV-Vis lebih besar
daripada hasil dengan menggunakan metode
iodimetri.
Vitamin C mudah teroksidasi oleh udara , terutama dalam bentuk larutan, maka
dalam pengerjaannya sediaan tidak boleh terlalu lama dibiarkan berinteraksi
dengan udara. Oleh karena itu sediaan harus segera disimpan di dalam lemari
pendingin begitu selesai digunakan (Arifin dkk. 2007).
Hasil penelitian Safaryani dkk. (2007) menyatakan
bahwa telah terjadi interaksi antara suhu dan lama penyimpanan yang berpengaruh
terhadap penurunan kadar vitamin C dan senyawa-senyawa lain pada brokoli. Hal
ini karena kedua faktor tersebut merupakan penyebab kerusakan bahan pangan
tersebut. Tetapi hal ini dapat diketahui batas-batasnya yang dapat meminimalkan
kerusakan bahan pangan terutama kehilangan senyawa-senyawa yang dikandungnya.
Hasil penelitian Arifin dkk. (2007)
tentang pengaruh pemberian vitamin C terhadap fetus pada mencit diabetes
menunjukkan vitamin C pada dosis 13 mg/kgBB dan 117 mg/kgBB tidak mempengaruhi
berat badan induk dan jumlah fetus secara bermakna, namun memberi pengaruh
terhadap berat badan fetus pada kontrol positif.
III.
Metode
Percobaan
3.1 Alat
dan Bahan
3.1.1
Alat
|
1. Erlenmeyer
|
2. Buret
|
3.
Beker Gelas
|
|
4.
Mortar
|
5.
Magnetic Stirer
|
|
3.1.2
Bahan
|
·
Vitamin C
|
·
Larutan Amilum
|
|
·
KI
|
·
Kertas saring
|
|
·
I2
|
·
Aquadest
|
3.2 Prosedur
Kerja
1. Penambahan
larutan terhadap larutan baku Na-tiosulfat
|
25ml larutan sampel
|
|
Aquadest
|
|
Larutan
|
|
Na2S2O3
|
|
Larutan
|
|
2ml Amilum
|
|
Larutan
|
Diencerkan
dalam
erlenmeyer
|
Dititrasi lagi sampai terbentuk warna biru
|
|
Dititrasi
|
2. Penentuan
kadar vitamin C
|
0,2gr sampel
vitamin C
|
|
250ml Aquadest
|
|
Larutan
|
|
Filtrat
|
|
Aquadest
|
|
Amilum 1%
|
|
Larutan
|
|
I2
|
|
Larutan
|
|
Diencerkan
|
|
Disaring & diambil filtratnya
|
|
Diaduk
|
|
Dititrasi
|
IV.
Hasil
dan Pembahasan
4.1 Hasil
|
No.
|
Perlakuan
|
Pengamatan
|
|
1.
|
- 5ml
vitamin C ditambahkan dengan 2ml amilum
- ditambah
aquadest 20ml
- dititrasi
dengan I2
|
- Warna putih bening
- Warna
menjadi keruh
- Warna
biru
- V1=
1,2ml V2=1,4 ml
|
|
2.
|
Blanko, 25
aquadest ditambah 2ml amilum
Dititrasi
dengan I2
|
- Warna
larutan bening
- Warna
biru V= 0,1 ml
|
4.2 Perhitungan
V titrans
= Vrata-rata
=
1,3 ml = 0,0013 L
Vblanko =
0,0001 L Mr Vitamin C = 176 gr/mol
Gr sampel = 0,2 gram
C I2 = 0,1N
Kadar vitamin C =
100%
=
100%
=
10,56%
4.3 Pembahasan
Penentuan kadar vitamin C (asam askorbat) pada
praktikum ini dilakukan dengan titrasi iodimetri (titrasi
langsung). Hal ini berdasarkan sifat bahwa vitamin C dapat bereaksi dengan I2.
Reaksi :
Sampel yang telah diencerkan
selanjutnya dipipet sebanyak 25 ml dan dimasukkan ke dalam Erlenmeyer, kemudian
ditambahkan larutan kanji sebagai indikator. Setelah itu
dititrasi dengan larutan I2 0,1N. Proses titrasi dilakukan sampai
larutan dalam erlenmeyer berubah warna dari larutan bening menjadi biru
violet. Warna biru violet yang dihasilkan merupakan reaksi
antara iod dengan amilum menjadi iod-amilum yang menandakan bahwa proses
titrasi telah mencapai titik akhir.
Fungsi larutan iod ialah
pereaksi untuk memperlihatkan jumlah vitamin C yang terdapat dalam sampel
menjadi senyawa dihidroaskorbat sehingga akan berwarna biru karena
pereaksi yang berlebih. Kanji bereaksi dengan iod, dengan adanya iodida
membentuk suatu kompleks yang berwarna biru yang akan terlihat pada
konsentrasi iod yang sangat rendah. Pada praktikum ini di dapat kadar vitamin C
dari sampel yang dijual di pasaran sebesar 10,56%. Berikut adalah gambar hasil
titrasinya:
V. Kesimpulan dan Saran
5.1 Kesimpulan
1. Penentuan
kadar vitamin C dilakukan dengan titrasi Iodimetri (titrasi langsung) yang
menggunakan larutan I2 sebagai larutan baku dan larutan amilum
sebagai indikator. Sampel yang digunakan ialah vitamin C yang dijual di
pasaran.
2. Dari
percobaan yang telah dilakukan, didapatkan kadar vitamin C yaitu 10,56%
5.2 Saran
1. Sebaiknya
pada praktikum selanjutnya sampel yang digunakan adalah buah-buahan atau
makanan yang mengandung vitamin C, bukan vitamin C sintesis agar praktikan bisa
lebih memahami.
DAFTAR
PUSTAKA
Arifin H., Delvita V., A A. 2007. Pengaruh Pemberian
Vitamin C terhadap Fetus Mencit
Diabetes. Jurnal Sains dan Teknologi
Farmasi, 12 (1) , 32-40
Karinda M., Fatimawali,. Citraningtyas G. 2013.
Perbandingan Hasil Penetapan Kadar Vitamin C Mangga Dodol dengan Menggunakan
Metode Spektrofotometri UV-Vis dan Iodometri. Jurnal Ilmiah Farmasi, 2 (01), 86-89
Safaryani N., Haryanti S., Hastuti E.D. 2007.
Pengaruh suhu dan lama penyimpanan terhadap penurunan kadar vitamin C brokoli
(Brassica oleracea L). Buletin Anatomi
dan Fisiologi, 15 (2), 39-45
Tidak ada komentar:
Posting Komentar