Selasa, 22 Desember 2015

Kupanggil ia Bunda (cerpen)



 Udara dingin sore hari mulai meraba kulitku dan berhasil Masuk melalui pori-pori tubuh hingga rasanya menusuk-nusuk sampai ke tulang, rintik hujan yang tiba-tiba datang seolah menambah kedinginan yang ada.
Entah mengapa saat itu aku merindukan sosok seorang Ibu. Air mata ku menetes setiap kali berbicara tentang Ibu. Aku jadi teringat hal itu lagi. Saat dimana semua orang membenci ku. Kakek, nenek, paman dan om dari keluarga Ibu ku menyalahkan aku. Mereka bilang akulah penyebab kematian Ibu ku. Mereka bilang karena melahirkanku  Ibu  jadi meninggal.
Kini hanya Ayah satu-satunya keluarga ku yang sangat menyayangi aku dan bisa menerima kematian Ibu. Andai aku bisa meminta pada tuhan, sebenarnya aku juga tidak ingin terlahir kedunia agar Ibuku bisa tetap hidup dan tertawa bersama keluarga yang sangat mencintainya.
“Ca...,Ica..”
Tepukan tangan Ayah di bahu ku menyadarkan lamunan ku. Segera ku seka air hangat yang mengalir di pipi, aku tak ingin Ayah tahu kalau aku menangis lagi.
“Ica kenapa? Kok nangis? Ayah ada salah sama ica?”.
“Nggak kok yah, ica cuma...”
“Kangen Ibu lagi?” ucap Ayah memotong kata-kata ku yang belum sempat selesai.
Sambil memegang kedua pundak ku Ayah menatap ku nanar. Mataku menjadi semakin panas hingga menumpahkan air hangat yang baru saja ku seka sejak kedatangan Ayah.
“Maafin Ica yah,” kataku lirih sambil menangis memegang kedua tangan Ayah.
“Sudahlah Ca, Ibumu pasti bahagia melihat anak perempuannya telah tumbuh menjadi gadis cantik dan soleha yang sebentar lagi akan menjadi sarjana pendidikan bahasa inggris,” kata Ayah mencoba menghIbur sembari mengelus kepala ku yang tertutup rapi oleh kerudung kaos berwarna biru.
Tiba-tiba kejutan suara klakson mobil di depan rumah menggerakkan tanganku dengan segera menghapus air yang sedari tadi membasahi wajah ku.  Dari teras depan rumah aku bisa melihat seorang anak kecil bersama seorang Ibu berjalan gontai di bawah payung merah jambu berusaha menghindari hujan yang semakin deras. Kini mereka berdua tepat berdiri di depan ku.
Good afternoon Mrs. Ica,” sapaan centil keluar dari bibir seorang anak perempuan mungil berambut panjang yang sIbuk membersihkan percikan air hujan yang mengenai rambut indahnya.
Belum sempat aku menjawab sapaan yang menghangatkan ku sore itu, suara perempuan disebelahnya langsung menyambar “Mrs. Ica titip anak saya ya, sudah saya bilang nggak usah les private dulu hari ini karena hujan tapi dia tetep aja kekeh minta diantar ke sini.”
“Ih.. mamah, aku kan pengen ketemu Mrs. Ica,” sambar anak kecil itu dengan manjanya.
Aku nyaris tak bisa berkata-kata lagi melihat kelakuan Ibu dan anak yang berada tepat di hadapan ku. “Yaudah kalau gitu Lala cium tangan mamah dulu ya, habis itu kita langsung Masuk ke kelas” kataku sambil memberikan senyuman hangat kepada Ibu dan anak yang luar biasa itu.
Setelah Lala mencium punggung tangan Ibunya ia pun mendapat kecupan hangat di keningnya. Pemandangan itu lagi-lagi membuat mata ku panas menahan air yang hendak tumpah. Tuhan, andai saja aku bisa meminta, aku ingin Ibu di hidupkan kembali satu menit saja, aku ingin memeluknya, menciumnya, membelai wajahnya dan mengatakan padanya bahwa aku sangat mencintainya.
Lala yang sedang melambaikan tangan ke arah mobil hitam itu kini menyadari air yang meluap dari sudut mata ku.
Mrs. Ica kenapa nangis, Lala udah jahat ya sama Mrs. Ica?” ucap Lala dengan nada merasa bersalah sambil menggoyang-goyangkan rok ku.
“Nggak kok Lala sayang, Mrs. Ica bangga aja liat anak kecil kayak kamu yang mau menuntut ilmu meski hujan begini,” kataku sambil menyentil hidung kecilnya “...yasudah ayuk Masuk ke kelas.”
Tak lama setelah kedatangan Lala beberapa anak juga berdatangan menyusul Masuk ke sebuah kamar tamu yang telah aku sulap menjadi ruang kelas yang indah.
Ya, sejak kuliah ku berusia semester tiga aku telah membuka les private bahasa inggris untuk anak-anak dan Masih berjalan hingga kini perkuliahanku meMasuki usia semester delapan, dan akan menjadi semester akhir. Aku sangat suka berinteraksi dengan anak-anak. Merekalah yang terkadang menghIburku dan mengajarkanku tentang pelajaran kehidupan.
Saat sedang asyik berbicara bahasa inggris dengan anak-anak didikku sebuah pesan singkat menggetarkan hp bututku. Ternyata dari Bunda.
Sayang besok sepulang kuliah temani Bunda ke pasar ya, Bunda tunggu lho besok.
Balas.
Oke Bunda sayang J
***
Terik matahari yang semakin menyengat membuat aku menambah laju sepeda motor yang ku kendarai. Aku sering tak tahan jika terlalu lama berkendara di atas sepeda motor, sebab global warming yang semakin parah membuat sinar matahari kini tak bersahabat lagi dengan kulitku meskipun aku selalu mengenakan baju dan rok panjang serta kerudung yang menjulur sampai menyentuh pinggang.
Akhirnya, tak sampai 20 menit aku dan Bunda sudah sampai di parkiran sebuah pasar tradisional. Ya, pagi tadi sebelum berangkat kuliah Bunda meminta ku menemaninya belanja ke pasar siang ini.
“Ca, bantu Bunda pilih ayam dong Bunda takut ada ayam yang nggak bagus kayak berita di tv itu,” ucap Bunda sambil tetap menatap dan mencolek-colek ayam yang sudah ditelanjangi dan dijejer di atas meja.
“Kok banyak bener bun beli dagingnya, tadi sudah beli daging sapi, terus beli daging ayam lagi. Siapa yang mau ngehabisin bun?” tanya ku penasaran dengan tingkah Bunda yang terlihat aneh.
“Hehe, maaf Ca saking senengnya Bunda lupa ngasih tahu kamu kalau hari ini Mas mu Kemal pulang dari Mesir.”
“Bunda... kenapa baru ngasih tahu sekarang, yasudah kalau gitu hari ini kita Masak spesial ya bun untuk menyambut Mas Kemal.”
Bunda. Begitulah aku biasa memanggil perempuan berkulit putih yang sebentar lagi genap berusia 50 tahun itu. Bunda adalah Ibu dari Mas Kemal yang kini menjadi kakak angkat ku. Rumah Bunda bersebelahan dengan tempat tinggal aku dan Ayah hingga sedari kecil aku sering di urus Bunda ketika Ayah kerja keluar kota. Tidak seperti Nenek, Kakek, Om atau Paman yang membenciku, Bunda bahkan tak mempunyai hubungan darah dengan ku atau dengan Ayah. Namun, sejak usia ku empat tahun ketika Bunda datang menjelma sebagai tetangga baru ku, Bunda telah  menjadi tempat ku belajar dan mengobati rinduku pada sosok seorang Ibu.
Aku ingat betul ketika pertama kali mengalami menstruasi, Ayah begitu panik dan kebingungan, untungnya ada Bunda. Ayah yang meminta tolong kepada Bunda untuk mengurus segala keperluan ku sebab kata Ayah ia tak begitu paham tentang urusan perempuan.
Waktu itu Bundalah yang membelikan ku seabrek pakaian dalam hingga aku lulus SMA. Dari Bundalah pertama kali aku tahu bagaimana cara memakai pembalut. Saat itu juga Bunda memberitahu aku ada sesuatu yang sangat berharga pada diri seorang perempuan yang harus dijaga.
Bunda selalu bilang ada batasan antara perempuan dan laki-laki. Bunda juga memberitahuku bagaimana aku harus bersikap di depan Ayah.
Meski dulu aku tak mengerti apa yang Bunda bilang tapi Bunda tak pernah bosan mengulang kalimat yang itu-itu saja agar aku ingat bahwa kehormatan seorang perempuan itu sangat berharga dari apapun.
Ketika aku lulus SMP Bunda tak henti-hentinya mengingatkan aku untuk tidak pacaran. Mas Kemal, anak laki-laki Bunda satu-satunya memilih untuk Masuk pesantren saat itu dan meneruskan  kuliah di Mesir dengan beasiswa full.
Aku bangga pada Bunda. Bagiku Bunda adalah sosok Ibu yang luar biasa. Bukan hanya aku yang berfikir seperti itu, bahkan Ibu-Ibu disekitar tempat tinggal ku juga bisa melihatnya dari Mas Kemal, anak yang berhasil Bunda didik hingga bukan kecerdasannya saja yang luar biasa, tapi juga akhlaknya yang sangat baik pada sesama terutama pada Bunda.
Awalnya Mas Kemal menolak untuk mengambil kesempatan beasiswa ke Mesir, tapi lagi-lagi kata-kata Bunda membuat aku bangga memiliki Bunda. Meski aku tahu Bunda akan sedih berpisah dengan Mas Kemal tapi dengan tegar Bunda bilang ke Mas Kemal “Bunda ikhlas Mas kalau kamu pergi untuk menuntut ilmu, apalagi ilmu agama. Nggak ada yang bisa Bunda wariskan ke kamu Mas selain ilmu, ambillah kesempatan itu Mas, lagian kalau pakai uang Bunda nggak mungkin kamu bisa kuliah ke luar negeri kan?.”
Mataku nanar menatap Bunda yang terlihat begitu bahagia menyambut kedatangan Mas Kemal setelah hampir empat tahun mereka tak bertemu. Meskipun aku hanya bisa melihat sosok Ibu dari selembar kertas foto pernikahan Ayah dan Ibu, tapi aku sangat bersyukur pada tuhan karena telah di pertemukan dengan Bunda. Aku telah menganggap Bunda seperti Ibu ku sendiri, begitu juga Bunda yang menganggap aku seperti anaknya sendiri. Sampai-sampai Bunda pernah demam katanya ia sangat merindukan ku ketika aku pergi praktik mengajar ke sebuah desa yang jauh dari kotaku selama satu bulan.
“Ca.. Ica...” Lambaian tangan Bunda tepat di depan wajah ku membuyarkan semua lamunan ku.
“Kok ngelamun?”
“Ehh, anu bun, belanjanya sudah? Sini biar Ica yang bawa.”
Sepulang dari pasar aku dan Bunda langsung meMasak semua bahan yang telah di beli. Ketika sedang mencuci sayuran mata ku tiba-tiba saja menoleh ke sebuah jendela terbuka tanpa kain gorden yang terletak di sudut dapur.
Mataku menangkap wajah yang sangat aku kenal sedang tersenyum. Berulang kali ku pijat pelupuk mataku. Ahh, ini benar-benar nyata, sepertinya sudah dari tadi ia melihat aku dan Bunda bekerja di dapur.
“Mas Kemal,” ucap ku berteriak kegirangan.
Bunda yang juga menyadari kedatangan Mas Kemal langsung berlari tergopoh membuka pintu depan.
“Assalamualaikum Bunda,” salam Mas Kemal yang sudah ada di depan pintu lebih dulu terdengar lirih dan langsung berlutut memeluk kaki Bunda yang berdiri terpaku seolah tak percaya anaknya tiba begitu cepat. “Bunda maafin Mas baru bisa pulang sekarang, Mas kangen banget sama Bunda,” Suara lirih Mas Kemal dan isakan tangisnya membuat tangis ku juga ikut pecah.
“Bunda juga kangen banget sama kamu Mal.”
*
“Di makan lagi dong Mas ayam gorengnya, Ica yang Masak loh, tapi di bantu Bunda hehe,” ucap ku melihat nafsu makan kakak angkatku seperti orang yang baru menemukan makanan setelah tidak makan seminggu.
“Jadi sekarang adikku Khairunnisa alias Ica sudah bisa goreng ayam toh, biasanya kan kamu cuma bisa bantu-bantu nyuciin sayur doang,” ledekan Mas Kemal disertai tawanya yang khas membuat aku memonyongkan bibir.
Setelah makan malam, aku, Bunda dan Mas Kemal melanjutkan ngobrol dan kangen-kangenan di ruang tamu.
“Mas Kemal kenapa sih tadi sore pakai acara ngintip di jendela dapur segala, nggak Masuk lewat depan aja,” tanyaku sambil membuka hadiah dan oleh-oleh dari Mas Kemal.
“Lha wong pintunya di kunci gimana mau Masuk, lagian Mas sudah ketuk dua kali tapi nggak ada yang jawab yaudah Mas lewat belakang saja. Mas juga takut di usir Bunda seperti kejadian waktu Mas pulang dari pesantren kelas 2 dulu.”
“Oh kejadian yang itu,” aku langsung tertawa mengingatnya, tawa khas ledekan.
Aku jadi geli sendiri kalau mengingat kejadian itu, sebenarnya yang membuat aku geli adalah ekspresi wajah Mas Kemal saat itu. Tapi lagi-lagi aku bangga pada Bunda. Jadi ceritanya waktu itu Mas Kemal lagi libur semester naik kelas 2, karena teman-temannya banyak yang pulang ke rumah Masing-Masing  ia pun memutuskan untuk pulang juga ke rumah.
Setibanya di rumah Mas Kemal mengetuk pintu dengan salam seperti biasanya, namun tak ada yang menjawab hingga ia mengetuknya lebih keras dan dengan ucapan salam yang lebih keras juga dan tak berhenti. Ternyata Bunda yang ada di dalam sedang solat.
Seketika itu juga Bunda keluar dengan raut wajah kecewa dan marah. Aku ingat betul kata-kata Bunda waktu itu “Kemal, apa yang sudah kamu lakukan? Ternyata satu tahun belajar di pondok pesantren belum juga membuat akhlak kamu baik, kalau begitu kembalilah lagi ke pesantren nak dan jangan pulang sebelum akhlak buruk mu kamu perbaiki,” seru Bunda dengan jari telunjuk menunjuk kedepan lalu kembali menutup pintu.
“Ya nggak mungkin lah Mas Kemal di suruh balik lagi ke Mesir, dulu kan karena jarak pesantren dengan rumah nggak terlalu jauh makanya Bunda berani nyuruh Mas balik lagi, ya kan bun? Hehe.”
“Yang pasti Bunda nggak mau kalau anak-anak Bunda cuma hebat ilmunya tapi buruk akhlaknya,” sambut Bunda menjawab perkataan ku.
Mendengar kata-kata Bunda, aku hanya bisa tersenyum sambil menatap dalam wajah Bunda yang sedang asyik membolak-balik gamis pemberian Mas Kemal. Kulihat Mas Kemal juga memandang Bunda dengan tatapan mata penuh cinta, cinta hangat seorang anak untuk Bundanya.
Malam itu aku habiskan dengan mencoba hadiah dan oleh-oleh dari Mesir, mendengarkan pengalaman Mas Kemal selama di luar negeri, dan yang paling aku suka tertawa dan berbagi cinta dengan Bunda.
I love you Bunda.


















Tidak ada komentar:

Posting Komentar