Udara dingin sore hari mulai meraba
kulitku dan berhasil Masuk melalui pori-pori tubuh hingga rasanya menusuk-nusuk
sampai ke tulang, rintik hujan yang tiba-tiba datang seolah menambah kedinginan
yang ada.
Entah mengapa saat itu aku merindukan
sosok seorang Ibu. Air mata ku menetes setiap kali berbicara tentang Ibu. Aku
jadi teringat hal itu lagi. Saat dimana semua orang membenci ku. Kakek, nenek,
paman dan om dari keluarga Ibu ku menyalahkan aku. Mereka bilang akulah
penyebab kematian Ibu ku. Mereka bilang karena melahirkanku Ibu jadi meninggal.
Kini hanya Ayah satu-satunya keluarga ku
yang sangat menyayangi aku dan bisa menerima kematian Ibu. Andai aku bisa
meminta pada tuhan, sebenarnya aku juga tidak ingin terlahir kedunia agar Ibuku
bisa tetap hidup dan tertawa bersama keluarga yang sangat mencintainya.
“Ca...,Ica..”
Tepukan tangan Ayah di bahu ku
menyadarkan lamunan ku. Segera ku seka air hangat yang mengalir di pipi, aku
tak ingin Ayah tahu kalau aku menangis lagi.
“Ica kenapa? Kok nangis? Ayah ada salah sama
ica?”.
“Nggak kok yah, ica cuma...”
“Kangen Ibu lagi?” ucap Ayah memotong kata-kata
ku yang belum sempat selesai.
Sambil memegang kedua pundak ku Ayah
menatap ku nanar. Mataku menjadi semakin panas hingga menumpahkan air hangat
yang baru saja ku seka sejak kedatangan Ayah.
“Maafin Ica yah,” kataku lirih sambil
menangis memegang kedua tangan Ayah.
“Sudahlah Ca, Ibumu pasti bahagia
melihat anak perempuannya telah tumbuh menjadi gadis cantik dan soleha yang
sebentar lagi akan menjadi sarjana pendidikan bahasa inggris,” kata Ayah
mencoba menghIbur sembari mengelus kepala ku yang tertutup rapi oleh kerudung kaos
berwarna biru.
Tiba-tiba kejutan suara klakson mobil di
depan rumah menggerakkan tanganku dengan segera menghapus air yang sedari tadi
membasahi wajah ku. Dari teras depan
rumah aku bisa melihat seorang anak kecil bersama seorang Ibu berjalan gontai
di bawah payung merah jambu berusaha menghindari hujan yang semakin deras. Kini
mereka berdua tepat berdiri di depan ku.
“Good
afternoon Mrs. Ica,” sapaan centil keluar dari bibir seorang anak perempuan
mungil berambut panjang yang sIbuk membersihkan percikan air hujan yang
mengenai rambut indahnya.
Belum sempat aku menjawab sapaan yang
menghangatkan ku sore itu, suara perempuan disebelahnya langsung menyambar “Mrs. Ica titip anak saya ya, sudah saya
bilang nggak usah les private dulu hari ini karena hujan tapi dia tetep aja
kekeh minta diantar ke sini.”
“Ih.. mamah, aku kan pengen ketemu Mrs. Ica,” sambar anak kecil itu dengan
manjanya.
Aku nyaris tak bisa berkata-kata lagi
melihat kelakuan Ibu dan anak yang berada tepat di hadapan ku. “Yaudah kalau
gitu Lala cium tangan mamah dulu ya, habis itu kita langsung Masuk ke kelas”
kataku sambil memberikan senyuman hangat kepada Ibu dan anak yang luar biasa
itu.
Setelah Lala mencium punggung tangan Ibunya
ia pun mendapat kecupan hangat di keningnya. Pemandangan itu lagi-lagi membuat mata
ku panas menahan air yang hendak tumpah. Tuhan, andai saja aku bisa meminta,
aku ingin Ibu di hidupkan kembali satu menit saja, aku ingin memeluknya,
menciumnya, membelai wajahnya dan mengatakan padanya bahwa aku sangat
mencintainya.
Lala yang sedang melambaikan tangan ke
arah mobil hitam itu kini menyadari air yang meluap dari sudut mata ku.
“Mrs.
Ica kenapa nangis, Lala udah jahat ya sama Mrs.
Ica?” ucap Lala dengan nada merasa bersalah sambil menggoyang-goyangkan rok ku.
“Nggak kok Lala sayang, Mrs. Ica bangga aja liat anak kecil
kayak kamu yang mau menuntut ilmu meski hujan begini,” kataku sambil menyentil
hidung kecilnya “...yasudah ayuk Masuk ke kelas.”
Tak lama setelah kedatangan Lala
beberapa anak juga berdatangan menyusul Masuk ke sebuah kamar tamu yang telah
aku sulap menjadi ruang kelas yang indah.
Ya, sejak kuliah ku berusia semester tiga
aku telah membuka les private bahasa inggris untuk anak-anak dan Masih berjalan
hingga kini perkuliahanku meMasuki usia semester delapan, dan akan menjadi
semester akhir. Aku sangat suka berinteraksi dengan anak-anak. Merekalah yang
terkadang menghIburku dan mengajarkanku tentang pelajaran kehidupan.
Saat sedang asyik berbicara bahasa
inggris dengan anak-anak didikku sebuah pesan singkat menggetarkan hp bututku.
Ternyata dari Bunda.
Sayang besok sepulang
kuliah temani Bunda ke pasar ya, Bunda tunggu lho besok.
Balas.
Oke
Bunda sayang J
***
Terik matahari yang semakin menyengat
membuat aku menambah laju sepeda motor yang ku kendarai. Aku sering tak tahan jika
terlalu lama berkendara di atas sepeda motor, sebab global warming yang semakin parah membuat sinar matahari kini tak
bersahabat lagi dengan kulitku meskipun aku selalu mengenakan baju dan rok
panjang serta kerudung yang menjulur sampai menyentuh pinggang.
Akhirnya, tak sampai 20 menit aku dan Bunda
sudah sampai di parkiran sebuah pasar tradisional. Ya, pagi tadi sebelum
berangkat kuliah Bunda meminta ku menemaninya belanja ke pasar siang ini.
“Ca, bantu Bunda pilih ayam dong Bunda
takut ada ayam yang nggak bagus kayak berita di tv itu,” ucap Bunda sambil
tetap menatap dan mencolek-colek ayam yang sudah ditelanjangi dan dijejer di
atas meja.
“Kok banyak bener bun beli dagingnya,
tadi sudah beli daging sapi, terus beli daging ayam lagi. Siapa yang mau
ngehabisin bun?” tanya ku penasaran dengan tingkah Bunda yang terlihat aneh.
“Hehe, maaf Ca saking senengnya Bunda
lupa ngasih tahu kamu kalau hari ini Mas mu Kemal pulang dari Mesir.”
“Bunda... kenapa baru ngasih tahu
sekarang, yasudah kalau gitu hari ini kita Masak spesial ya bun untuk menyambut
Mas Kemal.”
Bunda. Begitulah aku biasa memanggil perempuan
berkulit putih yang sebentar lagi genap berusia 50 tahun itu. Bunda adalah Ibu
dari Mas Kemal yang kini menjadi kakak angkat ku. Rumah Bunda bersebelahan
dengan tempat tinggal aku dan Ayah hingga sedari kecil aku sering di urus Bunda
ketika Ayah kerja keluar kota. Tidak seperti Nenek, Kakek, Om atau Paman yang
membenciku, Bunda bahkan tak mempunyai hubungan darah dengan ku atau dengan Ayah.
Namun, sejak usia ku empat tahun ketika Bunda datang menjelma sebagai tetangga
baru ku, Bunda telah menjadi tempat ku
belajar dan mengobati rinduku pada sosok seorang Ibu.
Aku ingat betul ketika pertama kali
mengalami menstruasi, Ayah begitu panik dan kebingungan, untungnya ada Bunda. Ayah
yang meminta tolong kepada Bunda untuk mengurus segala keperluan ku sebab kata Ayah
ia tak begitu paham tentang urusan perempuan.
Waktu itu Bundalah yang membelikan ku
seabrek pakaian dalam hingga aku lulus SMA. Dari Bundalah pertama kali aku tahu
bagaimana cara memakai pembalut. Saat itu juga Bunda memberitahu aku ada
sesuatu yang sangat berharga pada diri seorang perempuan yang harus dijaga.
Bunda selalu bilang ada batasan antara perempuan
dan laki-laki. Bunda juga memberitahuku bagaimana aku harus bersikap di depan Ayah.
Meski dulu aku tak mengerti apa yang Bunda
bilang tapi Bunda tak pernah bosan mengulang kalimat yang itu-itu saja agar aku
ingat bahwa kehormatan seorang perempuan itu sangat berharga dari apapun.
Ketika aku lulus SMP Bunda tak
henti-hentinya mengingatkan aku untuk tidak pacaran. Mas Kemal, anak laki-laki Bunda
satu-satunya memilih untuk Masuk pesantren saat itu dan meneruskan kuliah di Mesir dengan beasiswa full.
Aku bangga pada Bunda. Bagiku Bunda
adalah sosok Ibu yang luar biasa. Bukan hanya aku yang berfikir seperti itu, bahkan
Ibu-Ibu disekitar tempat tinggal ku juga bisa melihatnya dari Mas Kemal, anak
yang berhasil Bunda didik hingga bukan kecerdasannya saja yang luar biasa, tapi
juga akhlaknya yang sangat baik pada sesama terutama pada Bunda.
Awalnya Mas Kemal menolak untuk mengambil
kesempatan beasiswa ke Mesir, tapi lagi-lagi kata-kata Bunda membuat aku bangga
memiliki Bunda. Meski aku tahu Bunda akan sedih berpisah dengan Mas Kemal tapi
dengan tegar Bunda bilang ke Mas Kemal “Bunda ikhlas Mas kalau kamu pergi untuk
menuntut ilmu, apalagi ilmu agama. Nggak ada yang bisa Bunda wariskan ke kamu Mas
selain ilmu, ambillah kesempatan itu Mas, lagian kalau pakai uang Bunda nggak
mungkin kamu bisa kuliah ke luar negeri kan?.”
Mataku nanar menatap Bunda yang terlihat
begitu bahagia menyambut kedatangan Mas Kemal setelah hampir empat tahun mereka
tak bertemu. Meskipun aku hanya bisa melihat sosok Ibu dari selembar kertas
foto pernikahan Ayah dan Ibu, tapi aku sangat bersyukur pada tuhan karena telah
di pertemukan dengan Bunda. Aku telah menganggap Bunda seperti Ibu ku sendiri,
begitu juga Bunda yang menganggap aku seperti anaknya sendiri. Sampai-sampai Bunda
pernah demam katanya ia sangat merindukan ku ketika aku pergi praktik mengajar
ke sebuah desa yang jauh dari kotaku selama satu bulan.
“Ca.. Ica...” Lambaian tangan Bunda
tepat di depan wajah ku membuyarkan semua lamunan ku.
“Kok ngelamun?”
“Ehh, anu bun, belanjanya sudah? Sini
biar Ica yang bawa.”
Sepulang dari pasar aku dan Bunda
langsung meMasak semua bahan yang telah di beli. Ketika sedang mencuci sayuran
mata ku tiba-tiba saja menoleh ke sebuah jendela terbuka tanpa kain gorden yang
terletak di sudut dapur.
Mataku menangkap wajah yang sangat aku
kenal sedang tersenyum. Berulang kali ku pijat pelupuk mataku. Ahh, ini
benar-benar nyata, sepertinya sudah dari tadi ia melihat aku dan Bunda bekerja
di dapur.
“Mas Kemal,” ucap ku berteriak
kegirangan.
Bunda yang juga menyadari kedatangan Mas
Kemal langsung berlari tergopoh membuka pintu depan.
“Assalamualaikum Bunda,” salam Mas Kemal
yang sudah ada di depan pintu lebih dulu terdengar lirih dan langsung berlutut
memeluk kaki Bunda yang berdiri terpaku seolah tak percaya anaknya tiba begitu
cepat. “Bunda maafin Mas baru bisa pulang sekarang, Mas kangen banget sama Bunda,”
Suara lirih Mas Kemal dan isakan tangisnya membuat tangis ku juga ikut pecah.
“Bunda juga kangen banget sama kamu Mal.”
*
“Di makan lagi dong Mas ayam gorengnya,
Ica yang Masak loh, tapi di bantu Bunda hehe,” ucap ku melihat nafsu makan
kakak angkatku seperti orang yang baru menemukan makanan setelah tidak makan
seminggu.
“Jadi sekarang adikku Khairunnisa alias
Ica sudah bisa goreng ayam toh, biasanya kan kamu cuma bisa bantu-bantu nyuciin
sayur doang,” ledekan Mas Kemal disertai tawanya yang khas membuat aku
memonyongkan bibir.
Setelah makan malam, aku, Bunda dan Mas Kemal
melanjutkan ngobrol dan kangen-kangenan di ruang tamu.
“Mas Kemal kenapa sih tadi sore pakai
acara ngintip di jendela dapur segala, nggak Masuk lewat depan aja,” tanyaku
sambil membuka hadiah dan oleh-oleh dari Mas Kemal.
“Lha wong pintunya di kunci gimana mau Masuk,
lagian Mas sudah ketuk dua kali tapi nggak ada yang jawab yaudah Mas lewat
belakang saja. Mas juga takut di usir Bunda seperti kejadian waktu Mas pulang
dari pesantren kelas 2 dulu.”
“Oh kejadian yang itu,” aku langsung tertawa
mengingatnya, tawa khas ledekan.
Aku jadi geli sendiri kalau mengingat
kejadian itu, sebenarnya yang membuat aku geli adalah ekspresi wajah Mas Kemal
saat itu. Tapi lagi-lagi aku bangga pada Bunda. Jadi ceritanya waktu itu Mas Kemal
lagi libur semester naik kelas 2, karena teman-temannya banyak yang pulang ke
rumah Masing-Masing ia pun memutuskan
untuk pulang juga ke rumah.
Setibanya di rumah Mas Kemal mengetuk
pintu dengan salam seperti biasanya, namun tak ada yang menjawab hingga ia
mengetuknya lebih keras dan dengan ucapan salam yang lebih keras juga dan tak
berhenti. Ternyata Bunda yang ada di dalam sedang solat.
Seketika itu juga Bunda keluar dengan raut
wajah kecewa dan marah. Aku ingat betul kata-kata Bunda waktu itu “Kemal, apa
yang sudah kamu lakukan? Ternyata satu tahun belajar di pondok pesantren belum
juga membuat akhlak kamu baik, kalau begitu kembalilah lagi ke pesantren nak dan
jangan pulang sebelum akhlak buruk mu kamu perbaiki,” seru Bunda dengan jari
telunjuk menunjuk kedepan lalu kembali menutup pintu.
“Ya nggak mungkin lah Mas Kemal di suruh
balik lagi ke Mesir, dulu kan karena jarak pesantren dengan rumah nggak terlalu
jauh makanya Bunda berani nyuruh Mas balik lagi, ya kan bun? Hehe.”
“Yang pasti Bunda nggak mau kalau
anak-anak Bunda cuma hebat ilmunya tapi buruk akhlaknya,” sambut Bunda menjawab
perkataan ku.
Mendengar kata-kata Bunda, aku hanya
bisa tersenyum sambil menatap dalam wajah Bunda yang sedang asyik
membolak-balik gamis pemberian Mas Kemal. Kulihat Mas Kemal juga memandang Bunda
dengan tatapan mata penuh cinta, cinta hangat seorang anak untuk Bundanya.
Malam itu aku habiskan dengan mencoba
hadiah dan oleh-oleh dari Mesir, mendengarkan pengalaman Mas Kemal selama di
luar negeri, dan yang paling aku suka tertawa dan berbagi cinta dengan Bunda.
I
love you Bunda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar