Teman-teman ku bilang Pagi ini adalah pagi yang cerah,udara
yang sejuk,dan burung-burung berkicau
merdu, tapi entah kenapa aku tak dapat merasakan itu semua. Begitu banyak beban
dalam hidupku , kenapa? Kenapa ini terjadi padaku, kenapa?? . Begitu cepat ayah
meninggalkan aku, ibu dan adikku . sejak ayah meninggal hanya ibu lah kini yang
menjadi tulang punggung keluargaku . Ibu ku yang hanya lulusan sekolah dasar
hanya bisa bekerja sebagai pencuci baju keliling , terkadang ibu juga menjadi
pembantu rumah tangga , terkadang juga ibu berjualan sayur milik orang yang
hasilnya di bagi dua dengan pemilik sayur . Aku tak tahu harus berbuat apa di
usia ku yang masih 16 tahun . Aku sedih melihat kondisi ibu yang sering sakit
namun harus berjuang mencari nafkah untuk membiayai sekolah aku dan adikku yang
masih duduk di bangku smp tepatnya kelas 3 . Sepertinya kebahagiaan secepat
kilat pergi dari hidupku . Aku ingin merasakan lagi hangatnya pelukan seorang
ayah, aku ingin memancing dengan ayahku lagi , mencuci motor bersama , tamasya
bersama keluarga kecilku , tawa itu , canda itu , masih tergambar jelas di
fikiranku. Saat ayah menggendongku di punggungnya dapat ku rasakan
getaran-getaran cinta ayah mengalir di setiap tulang ku.ayah aku merindukan
mu....
“Nina,beli gorengannya dong ,nina,helloo?” . Sejenak tari
membuyarkan lamunan ku .”Oh iya ada apa tar?”. “Kamu kenapa nin kok ngelamun?”
. tanya tari yang merupakan sahabat ku sejak SD , ia tahu betul kondisi
keluarga ku . Tari adalah sahabat ku satu-satunya, banyak sekali perbedaan di
antara kami, namun perbedaan-perbedaan itu gak sedikitpun membuat perpecahan di
antara kami . Justru malah membuat aku dan tari semakin klop. Menurut ku tari
adalah anak yang baik, soleha, rajin, ia selalu mengenakan jilbab baik di
sekolah ataupun di rumah. Namun aku, aku sering di sebut teman-teman ku
perempuan jadi-jadian sebab gaya ku yang seperti anak laki-laki, rambut ku yang
pendek, dengan jeans pendek dan baju kaos, kalau di lihat dari belakang aku terlihat persis seperti anak laki-laki .
Namun tari sangat menyayangiku, kami sudah seperti saudara, ia sering
menasehati aku di kala aku dalam kesalahan, dia juga yang sering menghibur ku
saat aku sedih. Aku juga sering melindungi tari ketika ia di jahilin anak
laki-laki, ya bisa di bilang aku sedikit preman.
”Gak apa-apa kok tar” . Jawabku sambil merapikan dagangan ku.
“Jangan bohong nin, aku tahu kamu sedang memikirkan sesuatu” . ”Benar loh tari
bawel aku gak kenapa-kenapa, aku Cuma kangen ayah ku tar, oh iya kamu mau beli
berapa tar” . ”Rp5 ribu aja, sabar ya
nin aku yakin ayah mu pasti bangga punya anak yang cantik dan kuat kayak kamu”.
Lagi-lagi tari menghiburku. ”Terimakasih sahabat ku, nih gorengannya” .
”Sama-sama Nina, aku ke kantor guru dulu ya mau kasih nih gorengan tadi bu Atun
yang titip ke aku, cemungud ea nin jualannya”. Kata tari sambil mencubit pipi
ku. ”Aaawww... huh dasar tariiiiiiii “ .
Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk membantu ibu, menjual
gorengan di sekolah saat jam istirahat. Ya walaupun hasilnya gak seberapa tapi
aku bersyukur bisa sedikit mengurangi beban ibu ku. Setiap pagi aku
mengambil gorengan di warung seberang
rumah ku. Warung milik seorang janda yang prihatin melihat kondisi keluarga ku
dan menyarankan aku untuk menjual gorengannya di sekolah ku. Alhamdulillah
kepala sekolah mengizinkan ku berjualan dengan syarat tidak mengganggu
pelajaran di sekolah. Dengan jualan ini aku tidak perlu lagi meminta uang buat
jajan dan buat beli alat tulis pada ibu. Dan terkadang aku juga membaginya
dengan adikku. Aku dan adikku sangat paham sekali dengan kondisi keluarga kami
saat ini. Terlebih saat ibu jatuh sakit seminggu yang lalu. Dokter memvonis ibu
terkena tipes. Aku takut jika harus putus sekolah. Aku tidak mau jika aku dan
adikku tidak mempunyai pendidikan yang tinggi , aku tidak mau kelak jika aku
telah berkeluarga susah seperti keluarga ku saat ini. Untung aku masih punya
kerabat di sini yaitu pakde Asep yang merupakan abg kandung dari ayahku. Beliau
lah yang sedikit-sedikit membantu ekonomi keluarga ku. Beliau juga yang telah
membiayai administrasi rumah sakit saat ibu di rawat.
Toktoktok.... “Assalamu’alaikum......vinaa.. “ . ”Waalaikum
salam kak, udah pulang sekolah?” . ”Ibu mana vin?” ,tanya ku pada vina adik
kandung ku. ”Ibu lagi istirahat kak, tadi ibu mau pergi nyuci baju tetangga
tapi katanya badannya panas kak jadi vina suruh istirahat”.
Ya Allah terik matahari di siang ini seakan semakin membakar
melihat ibu yang terbaring sakit, segera
aku membersihkan diriku.
Dari sudut pintu kamar
ku lihat ibu yang terbaring lemah di kasur, hati ku bagai tersayat-sayat
melihat penderitaan ibuku tanpa sadar air mata ku menetes. Segera ku hapus air
mata itu sebab aku tak mau ibu melihat aku bersedih.
Ku hampiri ibu yg tengah berbaring ku pegang kening nya
alhamdulillah sudah tidak terlalu tinggi panasnya.
"Bu, maafin nina ya”, ucap ku pelan sembari memegang
kening ibu ku ”Kenapa sayang?”. Tiba-tiba ibu terbangun mungkin aku sudah menggangggu
istirahat ibu ku. “Kok ibu sudah bangun?, ibu mau makan apa biar nina masakin?,
sebentar ya bu nina buatin teh hangat dulu”. Segera aku bergegas ke dapur untuk
membuatkan ibu teh hangat, serta ku ambil sepiring nasi dan sayur serta tempe
goreng yang ada di balik tudung saji sisa masakan tadi pagi.
“Bu, ini di minum teh nya”, ucapku sembari meminumkan teh
tersebut pada ibu ku. “Terimakasih ya sayang”. “Bu, makan dulu ya, nina suapin
ya bu”.
“Tidak
usah nin,biar ibu makan sendiri”
“Gak
apa-apa bu nina suapin ya”.
“Sudahlah
nin sini berikan piringnya lebih baik kamu belajar sana”.
Hmm..
apa mau di kata, begitulah ibuku yang keras kepala. Ia tidak mau merepotkan
orang lain bahkan anaknya sendiri padahal kondisinya sedang sakit.
“yasudah
nina ke kamar dulu ya bu”.
Segera aku keluar dari kamar ibu dan bergegas mengambil hp
butut ku . Segera ku cari nomor tari dan...
“Assalamualaikum nin, apa kabar?”. Terdengar kelembutan
suara Tari dari sudut telephon genggam ku. “Waalaikumsalam, Tar tolong aku Tar
sungguh aku bingung , aku sedih aku gak tau harus gimana sepertinya kondisi ibu
semakin lemah aku takut Tar aku takut”.
“Baiklah
Nin ku tunggu kau di taman belakang masjid ya sekarang”.
Tut..tut..tut...
Tari mengakhiri panggilan itu.
Segera aku bergegas menuju taman di dekat masjid Nurul Iman
yang tidak terlalu jauh dari rumahku. Aku tahu tari memang suka sekali datang
ke tempat ini karena sering ku lihat ia bersama teman-temannya mengaji dan
berdiskusi di sini. Ia juga sering mengajakku tapi dengan berbagai alasan aku
menghiraukannya, tapi tari tetap sabar dengan sikap ku ia tidak serta merta
membenci ku. sungguh ia memang anak yang baik.
Ku lihat ia telah datang lebih awal dari ku. ”Assalamualaikum”,
sapa ku dengan suara agak lirih. “Waalaikumsalam, Ninaa”. Tari langsung
memelukku dan tak tertahankan lagi aku menumpahkan air mataku di pelukannya.
“Nin
kamu jangan khawatir ya jangan sedih Allah bersama kita kok”. Ucap tari sembari
menghapus air mata ku.
Ya allah hatiku semakin perih mendengar kata-kata tari aku
tak bisa berkata-kata lagi aku teringat akan dosa-dosa yang selama ini aku
lakukan, mungkinkah ini adalah hukuman bagi ku yang tak pernah beribadah dan
menjalankan perintahmu ya allah....
Krriiiinnnggggg...... tiba-tiba hp ku bergetar ku lihat
adikku menelfon. ”Halo, ada apa Vin?”.
“Kakak dimana cepat pulang kak panas ibu
tinggi banget tadi ibu sempat kejang”. “apa? Iya iya kakak akan segera pulang
“.
“Ada
apa Nin?”. “Ibu Tar....”. Segera aku
menuju ke rumah ku bersama Tari.
“Bu, ibu kenapa? Vin tolong
ambilkan air es dan saputangan ya cepat”.
“Iya
kak, ini kak es dan saputangannya”.
Segera
ku kompres kening ibu ku dan ku pijit tubuh nya. ku lihat piring di atas meja
sepertinya ibu hanya makan sedikit tadi.
“Ibu kenapa? Bu kita ke dokter yuk bu, ibu mananya yang
sakit, ibu mau makan apa? kenapa tadi gak di habis kan nasinya bu? Nina suapin
ya bu”.
“Tidak
usah nin, ibu tidak lapar”.
“Bu,
katakan pada nina ibu mau makan apa bu? Apa yang harus nina lakukan bu katakan
lah bu”. Lagi-lagi tak kuasa aku membendung air mata ku . Tiba-tiba ibu
menggenggam tangan ku erat dan tersenyum sambil berkata.
“Tidak
usah sayang , ibu tidak ingin makan apa-apa, ibu juga tidak apa-apa, dan kamu
tidak harus melakukan apa-apa sayang, cukuplah kamu menjadi anak yang soleha
agar kamu bisa menolong ayah dan ibu di akhirat kelak, bimbing juga adik mu ya”.
Hati ku semakin tersayat dan perih mendengar perkataan ibu
tadi. Pasti bu pasti nina akan menjadi penolong ayah dan ibu di akhirat kelak.
Ucap ku dalam hati sambil menangis memeluk ibu ku.
Waktu sudah menunjukkan pukul 18:30 wib tari sudah kembali
ke rumahnya, kulihat ibu sudah agak mendingan. Tiba tiba..
Allahuakbar
allahuakbar.....
Terdengar
jelas suara azan itu yang biasanya tak pernah aku mendengarkannya. Terasa ada
yang bergetar di hati ku, seperti ada hasrat ingin melaksanakan kewajiban itu.
Segera ku ambil wudhu dan ku tunaikan solat magrib itu. Dalam doa ku aku
berkata..
Ya
allah ampunilah aku, sembuhkan lah ibuku tolonglah aku ya allah jadikan lah aku
dan adikku anak yang soleha agar aku bisa menjadi penolong bagi ayah dan ibuku
di akhirat ya allah aku berjanji akan menjadi anak yang baik ya allah... amiin.
Saat akan meletakkan mukenah ku yang masih baru karena tidak
pernah ku pakai tiba-tiba aku melihat selembar kainn biru menggantung di lemari
ku seperti hendak mau jatuh. Langsung saja ku ambil kain itu agar bisa ku lipat
dan ku letakkan kembali dengan rapi. Tiba-tiba aku teringat bahwa ini adalah
jilbab yang di belikan ibu untuk ku ketika menjelang idul fitri 2 tahun yang
lalu karena aku berhasil puasa ramadhan selama 2 minggu. Jilbab persegi empat
berwarna biru muda dengan bordiran bunga yang indah, namun sekalipun aku tidak
pernah memakainya. Aku rasa ibu sedih
karena aku tidak pernah memakai nya padahal ia sudah susah payah membelinya dan menghadiahkannya pada ku. “Tapi...
bagaimana cara memakainya ya” , sejenak aku berfikir dan saat itu juga aku
teringat akan sahabat ku yang merupakan seorang jilbaber, pasti Tari bisa
membantuku memakainya.
Segera ku kenakan jeans panjang ku dan kaos dengan lengan
panjang lalu berpamitan pada ibu hendak
ke rumah tari sambil membawa jilbab yang ku masukkan ke dalam baju ku karena
aku takut ibu melihatnya.
Tok...tok...tok... “assalamualaikum...”.
“waalaikumsalam...eh
nina yuk masuk yuk”. ”Tarinya ada tante?”.
“Ada
tuh lagi belajar di kamar masuk aja gih, Taarrr... ada Nina nih”. Segera tari
keluar dari kamarnya dan “Ehh Nina yuk ke kamar ku, apaan tu yang kamu sembunyiin?”.
Segera aku menggiring Tari ke kamarnya. “Sssttttt... jangan keras-keras ntar
ibu mu dengar aku kan bisa malu”.
“Emang
apaan sih?” . Tari mulai penasaran. Ku keluarkan jilbab itu dan ku lihat
ekspresi Tari yang membolak balikkan jilbab itu. ”Masya allah ini kan jilbab
pertama dari ibu mu kan nin?”.
“Iya
tar, dan aku ke sini mau minta tolong ajarin aku cara memakainya Tar”. “Masya
allah, serius kamu Nin?”. “Ya ampun tar
biasa aja loh ekspresinya, ya aku serius nih”.
Sini-sini
aku ajarin. Tanpa menunggu lama Tari langsung melipat jilbab itu menjadi segi
tiga dan menutupkannya di kepalaku lalu menyematnya dengan peniti.
“Tadaaa... sudah selesai, masya allah kamu cantik banget Nin
terlihat anggun”. Segera ku lihat wajah ku di cermin ternyata Tari benar ada
yang berubah dari wajah ku, seakan wajah sedih itu telah hilang.
“yasudah aku pulang dulu ya Tar terimakasih udah mau ngajari
aku”.
“Hmm...
jadi ke sini Cuma mau pakai jilbab doang, dasar Nina”.
Segera aku bergegas ke luar dari kamar Tari dengan masih
mengenakan jilbab itu aku takut ibu menunggu ku di rumah. Dan ketika aku baru
melangkah keluar, Umi dan Abi nya Tari menatap ku agak lama. “Masya allah nina
cantik banget...”.
“Terimakasih
tante, Nina pamit pulang dulu ya Tan takut ibu ntar nunggui Nina,
assalamualaikum”.
Sambil berjalan pulang aku serasa semakin termotivasi dengan
kata-kata Tari dan ibunya.
Dan
ternyata benar ibu telah menunggu ku di ruang tamu. “Assalamualaikum..”. “Waalaikumsalam”.
Ibu yang sedang membukakan pintu
terkejut melihat ku.
“Kamu
Nina? Nina anak ibu?”. “Yaiyalah bu, kenapa ibu nanya nya gitu, emang Nina
makin cantik ya bu sampai-sampai ibu gak tanda lagi?”. Segera ibu memelukku dan
menumpahkan air matannya di pelukan ku.
“Iya sayang kamu cantik bahkan lebih cantik dari bidadari di
surga”. Saat itu juga air mata ku pun tumpah mendengar perkataan ibu.
“Bu,
maafin nina ya bu selama ini nina udah jadi anak yang nakal”. “Tidak sayang
tidak”. Lalu ibu mencium keningku. Dalam hati aku pun berdoa.
Ya
allah ampunilah dosa ayah dan ibuku ya allah. Aku yakin ayah ku juga tersenyum
melihatku dari kejauhan. J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar