Jumat, 04 Desember 2015

Sebiru Jilbabku (cerpen ku)





Teman-teman ku bilang Pagi ini adalah pagi yang cerah,udara yang sejuk,dan burung-burung  berkicau merdu, tapi entah kenapa aku tak dapat merasakan itu semua. Begitu banyak beban dalam hidupku , kenapa? Kenapa ini terjadi padaku, kenapa?? . Begitu cepat ayah meninggalkan aku, ibu dan adikku . sejak ayah meninggal hanya ibu lah kini yang menjadi tulang punggung keluargaku . Ibu ku yang hanya lulusan sekolah dasar hanya bisa bekerja sebagai pencuci baju keliling , terkadang ibu juga menjadi pembantu rumah tangga , terkadang juga ibu berjualan sayur milik orang yang hasilnya di bagi dua dengan pemilik sayur . Aku tak tahu harus berbuat apa di usia ku yang masih 16 tahun . Aku sedih melihat kondisi ibu yang sering sakit namun harus berjuang mencari nafkah untuk membiayai sekolah aku dan adikku yang masih duduk di bangku smp tepatnya kelas 3 . Sepertinya kebahagiaan secepat kilat pergi dari hidupku . Aku ingin merasakan lagi hangatnya pelukan seorang ayah, aku ingin memancing dengan ayahku lagi , mencuci motor bersama , tamasya bersama keluarga kecilku , tawa itu , canda itu , masih tergambar jelas di fikiranku. Saat ayah menggendongku di punggungnya dapat ku rasakan getaran-getaran cinta ayah mengalir di setiap tulang ku.ayah aku merindukan mu....
“Nina,beli gorengannya dong ,nina,helloo?” . Sejenak tari membuyarkan lamunan ku .”Oh iya ada apa tar?”. “Kamu kenapa nin kok ngelamun?” . tanya tari yang merupakan sahabat ku sejak SD , ia tahu betul kondisi keluarga ku . Tari adalah sahabat ku satu-satunya, banyak sekali perbedaan di antara kami, namun perbedaan-perbedaan itu gak sedikitpun membuat perpecahan di antara kami . Justru malah membuat aku dan tari semakin klop. Menurut ku tari adalah anak yang baik, soleha, rajin, ia selalu mengenakan jilbab baik di sekolah ataupun di rumah. Namun aku, aku sering di sebut teman-teman ku perempuan jadi-jadian sebab gaya ku yang seperti anak laki-laki, rambut ku yang pendek, dengan jeans pendek dan baju kaos, kalau di lihat dari belakang  aku terlihat persis seperti anak laki-laki . Namun tari sangat menyayangiku, kami sudah seperti saudara, ia sering menasehati aku di kala aku dalam kesalahan, dia juga yang sering menghibur ku saat aku sedih. Aku juga sering melindungi tari ketika ia di jahilin anak laki-laki, ya bisa di bilang aku sedikit preman.
”Gak apa-apa kok tar” . Jawabku sambil merapikan dagangan ku. “Jangan bohong nin, aku tahu kamu sedang memikirkan sesuatu” . ”Benar loh tari bawel aku gak kenapa-kenapa, aku Cuma kangen ayah ku tar, oh iya kamu mau beli berapa tar” . ”Rp5 ribu aja, sabar  ya nin aku yakin ayah mu pasti bangga punya anak yang cantik dan kuat kayak kamu”. Lagi-lagi tari menghiburku. ”Terimakasih sahabat ku, nih gorengannya” . ”Sama-sama Nina, aku ke kantor guru dulu ya mau kasih nih gorengan tadi bu Atun yang titip ke aku, cemungud ea nin jualannya”. Kata tari sambil mencubit pipi ku. ”Aaawww... huh dasar tariiiiiiii “ .
Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk membantu ibu, menjual gorengan di sekolah saat jam istirahat. Ya walaupun hasilnya gak seberapa tapi aku bersyukur bisa sedikit mengurangi beban ibu ku. Setiap pagi aku mengambil  gorengan di warung seberang rumah ku. Warung milik seorang janda yang prihatin melihat kondisi keluarga ku dan menyarankan aku untuk menjual gorengannya di sekolah ku. Alhamdulillah kepala sekolah mengizinkan ku berjualan dengan syarat tidak mengganggu pelajaran di sekolah. Dengan jualan ini aku tidak perlu lagi meminta uang buat jajan dan buat beli alat tulis pada ibu. Dan terkadang aku juga membaginya dengan adikku. Aku dan adikku sangat paham sekali dengan kondisi keluarga kami saat ini. Terlebih saat ibu jatuh sakit seminggu yang lalu. Dokter memvonis ibu terkena tipes. Aku takut jika harus putus sekolah. Aku tidak mau jika aku dan adikku tidak mempunyai pendidikan yang tinggi , aku tidak mau kelak jika aku telah berkeluarga susah seperti keluarga ku saat ini. Untung aku masih punya kerabat di sini yaitu pakde Asep yang merupakan abg kandung dari ayahku. Beliau lah yang sedikit-sedikit membantu ekonomi keluarga ku. Beliau juga yang telah membiayai administrasi rumah sakit saat ibu di rawat.
Toktoktok.... “Assalamu’alaikum......vinaa.. “ . ”Waalaikum salam kak, udah pulang sekolah?” . ”Ibu mana vin?” ,tanya ku pada vina adik kandung ku. ”Ibu lagi istirahat kak, tadi ibu mau pergi nyuci baju tetangga tapi katanya badannya panas kak jadi vina suruh istirahat”.
Ya Allah terik matahari di siang ini seakan semakin membakar  melihat ibu yang terbaring sakit, segera aku membersihkan diriku.
Dari sudut pintu kamar  ku lihat ibu yang terbaring lemah di kasur, hati ku bagai tersayat-sayat melihat penderitaan ibuku tanpa sadar air mata ku menetes. Segera ku hapus air mata itu sebab aku tak mau ibu melihat aku bersedih.
Ku hampiri ibu yg tengah berbaring ku pegang kening nya alhamdulillah sudah tidak terlalu tinggi panasnya.
"Bu, maafin nina ya”, ucap ku pelan sembari memegang kening ibu ku ”Kenapa sayang?”. Tiba-tiba ibu terbangun mungkin aku sudah menggangggu istirahat ibu ku. “Kok ibu sudah bangun?, ibu mau makan apa biar nina masakin?, sebentar ya bu nina buatin teh hangat dulu”. Segera aku bergegas ke dapur untuk membuatkan ibu teh hangat, serta ku ambil sepiring nasi dan sayur serta tempe goreng yang ada di balik tudung saji sisa masakan tadi pagi.
“Bu, ini di minum teh nya”, ucapku sembari meminumkan teh tersebut pada ibu ku. “Terimakasih ya sayang”. “Bu, makan dulu ya, nina suapin ya bu”.
“Tidak usah nin,biar ibu makan sendiri”
“Gak apa-apa bu nina suapin ya”.
“Sudahlah nin sini berikan piringnya lebih baik kamu belajar sana”.
Hmm.. apa mau di kata, begitulah ibuku yang keras kepala. Ia tidak mau merepotkan orang lain bahkan anaknya sendiri padahal kondisinya sedang sakit.
“yasudah nina ke kamar dulu ya bu”.
Segera aku keluar dari kamar ibu dan bergegas mengambil hp butut ku . Segera ku cari nomor tari dan...
“Assalamualaikum nin, apa kabar?”. Terdengar kelembutan suara Tari dari sudut telephon genggam ku. “Waalaikumsalam, Tar tolong aku Tar sungguh aku bingung , aku sedih aku gak tau harus gimana sepertinya kondisi ibu semakin lemah aku takut Tar aku takut”.
“Baiklah Nin ku tunggu kau di taman belakang masjid ya sekarang”.
Tut..tut..tut... Tari mengakhiri panggilan itu.
Segera aku bergegas menuju taman di dekat masjid Nurul Iman yang tidak terlalu jauh dari rumahku. Aku tahu tari memang suka sekali datang ke tempat ini karena sering ku lihat ia bersama teman-temannya mengaji dan berdiskusi di sini. Ia juga sering mengajakku tapi dengan berbagai alasan aku menghiraukannya, tapi tari tetap sabar dengan sikap ku ia tidak serta merta membenci ku. sungguh ia memang anak yang baik.
Ku lihat ia telah datang lebih awal dari ku. ”Assalamualaikum”, sapa ku dengan suara agak lirih. “Waalaikumsalam, Ninaa”. Tari langsung memelukku dan tak tertahankan lagi aku menumpahkan air mataku di pelukannya.
“Nin kamu jangan khawatir ya jangan sedih Allah bersama kita kok”. Ucap tari sembari menghapus air mata ku.
Ya allah hatiku semakin perih mendengar kata-kata tari aku tak bisa berkata-kata lagi aku teringat akan dosa-dosa yang selama ini aku lakukan, mungkinkah ini adalah hukuman bagi ku yang tak pernah beribadah dan menjalankan perintahmu ya allah....
Krriiiinnnggggg...... tiba-tiba hp ku bergetar ku lihat adikku menelfon. ”Halo, ada apa Vin?”.
 “Kakak dimana cepat pulang kak panas ibu tinggi banget tadi ibu sempat kejang”. “apa? Iya iya kakak akan segera pulang “.
“Ada apa Nin?”.  “Ibu Tar....”. Segera aku menuju ke rumah ku bersama Tari.
“Bu, ibu kenapa? Vin tolong  ambilkan air es dan saputangan ya cepat”.
“Iya kak, ini kak es dan saputangannya”.
Segera ku kompres kening ibu ku dan ku pijit tubuh nya. ku lihat piring di atas meja sepertinya ibu hanya makan sedikit tadi.
“Ibu kenapa? Bu kita ke dokter yuk bu, ibu mananya yang sakit, ibu mau makan apa? kenapa tadi gak di habis kan nasinya bu? Nina suapin ya bu”.
“Tidak usah nin, ibu tidak lapar”.
“Bu, katakan pada nina ibu mau makan apa bu? Apa yang harus nina lakukan bu katakan lah bu”. Lagi-lagi tak kuasa aku membendung air mata ku . Tiba-tiba ibu menggenggam tangan ku erat dan tersenyum sambil berkata.
“Tidak usah sayang , ibu tidak ingin makan apa-apa, ibu juga tidak apa-apa, dan kamu tidak harus melakukan apa-apa sayang, cukuplah kamu menjadi anak yang soleha agar kamu bisa menolong ayah dan ibu di akhirat kelak, bimbing juga adik mu ya”.
Hati ku semakin tersayat dan perih mendengar perkataan ibu tadi. Pasti bu pasti nina akan menjadi penolong ayah dan ibu di akhirat kelak. Ucap ku dalam hati sambil menangis memeluk ibu ku.
Waktu sudah menunjukkan pukul 18:30 wib tari sudah kembali ke rumahnya, kulihat ibu sudah agak mendingan. Tiba tiba..
Allahuakbar allahuakbar.....
Terdengar jelas suara azan itu yang biasanya tak pernah aku mendengarkannya. Terasa ada yang bergetar di hati ku, seperti ada hasrat ingin melaksanakan kewajiban itu. Segera ku ambil wudhu dan ku tunaikan solat magrib itu. Dalam doa ku aku berkata..
Ya allah ampunilah aku, sembuhkan lah ibuku tolonglah aku ya allah jadikan lah aku dan adikku anak yang soleha agar aku bisa menjadi penolong bagi ayah dan ibuku di akhirat ya allah aku berjanji akan menjadi anak yang baik ya allah... amiin.
Saat akan meletakkan mukenah ku yang masih baru karena tidak pernah ku pakai tiba-tiba aku melihat selembar kainn biru menggantung di lemari ku seperti hendak mau jatuh. Langsung saja ku ambil kain itu agar bisa ku lipat dan ku letakkan kembali dengan rapi. Tiba-tiba aku teringat bahwa ini adalah jilbab yang di belikan ibu untuk ku ketika menjelang idul fitri 2 tahun yang lalu karena aku berhasil puasa ramadhan selama 2 minggu. Jilbab persegi empat berwarna biru muda dengan bordiran bunga yang indah, namun sekalipun aku tidak pernah memakainya.  Aku rasa ibu sedih karena aku tidak pernah memakai nya padahal ia sudah susah payah  membelinya dan menghadiahkannya pada ku. “Tapi... bagaimana cara memakainya ya” , sejenak aku berfikir dan saat itu juga aku teringat akan sahabat ku yang merupakan seorang jilbaber, pasti Tari bisa membantuku memakainya.
Segera ku kenakan jeans panjang ku dan kaos dengan lengan panjang  lalu berpamitan pada ibu hendak ke rumah tari sambil membawa jilbab yang ku masukkan ke dalam baju ku karena aku takut ibu melihatnya.
Tok...tok...tok... “assalamualaikum...”.
“waalaikumsalam...eh nina yuk masuk yuk”. ”Tarinya ada tante?”.
“Ada tuh lagi belajar di kamar masuk aja gih, Taarrr... ada Nina nih”. Segera tari keluar dari kamarnya dan “Ehh Nina yuk ke kamar ku, apaan tu yang kamu sembunyiin?”. Segera aku menggiring Tari ke kamarnya. “Sssttttt... jangan keras-keras ntar ibu mu dengar aku kan bisa malu”.
“Emang apaan sih?” . Tari mulai penasaran. Ku keluarkan jilbab itu dan ku lihat ekspresi Tari yang membolak balikkan jilbab itu. ”Masya allah ini kan jilbab pertama dari ibu mu kan nin?”.
“Iya tar, dan aku ke sini mau minta tolong ajarin aku cara memakainya Tar”. “Masya allah, serius kamu Nin?”.  “Ya ampun tar biasa aja loh ekspresinya, ya aku serius nih”.
Sini-sini aku ajarin. Tanpa menunggu lama Tari langsung melipat jilbab itu menjadi segi tiga dan menutupkannya di kepalaku lalu menyematnya dengan peniti.
“Tadaaa... sudah selesai, masya allah kamu cantik banget Nin terlihat anggun”. Segera ku lihat wajah ku di cermin ternyata Tari benar ada yang berubah dari wajah ku, seakan wajah sedih itu telah hilang.
“yasudah aku pulang dulu ya Tar terimakasih udah mau ngajari aku”.
“Hmm... jadi ke sini Cuma mau pakai jilbab doang, dasar Nina”.
Segera aku bergegas ke luar dari kamar Tari dengan masih mengenakan jilbab itu aku takut ibu menunggu ku di rumah. Dan ketika aku baru melangkah keluar, Umi dan Abi nya Tari menatap ku agak lama. “Masya allah nina cantik banget...”.
“Terimakasih tante, Nina pamit pulang dulu ya Tan takut ibu ntar nunggui Nina, assalamualaikum”.
Sambil berjalan pulang aku serasa semakin termotivasi dengan kata-kata Tari dan ibunya.
Dan ternyata benar ibu telah menunggu ku di ruang tamu. “Assalamualaikum..”. “Waalaikumsalam”. Ibu yang  sedang membukakan pintu terkejut melihat ku.
“Kamu Nina? Nina anak ibu?”. “Yaiyalah bu, kenapa ibu nanya nya gitu, emang Nina makin cantik ya bu sampai-sampai ibu gak tanda lagi?”. Segera ibu memelukku dan menumpahkan air matannya di pelukan ku.
“Iya sayang kamu cantik bahkan lebih cantik dari bidadari di surga”. Saat itu juga air mata ku pun tumpah mendengar perkataan ibu.
“Bu, maafin nina ya bu selama ini nina udah jadi anak yang nakal”. “Tidak sayang tidak”. Lalu ibu mencium keningku. Dalam hati aku pun berdoa.
Ya allah ampunilah dosa ayah dan ibuku ya allah. Aku yakin ayah ku juga tersenyum melihatku dari kejauhan. J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar